suarasurabaya.net

Ekosistem Startup di Indonesia Perlu Ini Supaya Maju
Laporan Agung Hari Baskoro | Kamis, 10 Januari 2019 | 20:21 WIB

Ahmad Yusri Authoni Staff Lembaga Pengembangan Bisnis dan inkubasi (LPBI) Unair saat di Geco Co-Working Space, Surabaya pada Kamis (10/1/2019). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Indonesia belum memiliki ekosistem yang baik untuk pengembangan bisnis startup. Ahmad Yusri Authoni Staff Lembaga Pengembangan Bisnis dan inkubasi (LPBI) Unair mengatakan, negara maju sudah memiliki ekosistem yang kuat dalam pengembangan startup di negaranya.

"Industri startup di jepang misalnya, sudah memiliki ekosistem yang kuat, mulai dari inkubator, penyandang dana, dan pemerintah, sudah menjadi satu paket khusus," kata Yusri ketika ditemui di Geco Co-Working Space, Surabaya, Kamis (10/1/2019).

Yusri yang mendapat kesempatan melihat Inkubator bisnis startup di Jepang lewat dana Kemenristek Dikti pada 2018 mengatakan, industri di Jepang sangat mendukung pengembangan Startup. Ia mencontohkan Leave a Nest, sebuah inkubator startup yang berbasis di Tokyo, Jepang.

"Ternyata dananya dari CSR-CSR perusahaan besar dan startup yang dulu pernah dibantu oleh mereka. Pemerintah juga mendukung dengan membentuk kawasan science park dan punya lembaga keuangan khusus yang menangani startup," ujarnya.

Ia melihat, Pemerintah Indonesia perlu mengembangkan lembaga serupa. Masalahnya, selama ini, Perbankan atau Venture Capital di Indonesia merasa rawan jika memberi dana ke Startup.

"Kan, kalau ngasih dana ke startup (dianggap,red) paling rawan. Bisa jadi berkembang atau malah mati. Dana-dana seperti ini tidak diperhitungkan di Jepang. Benar-benar CSR. Tidak takut merugi," katanya.

Berkat ekosistem yang kuat di Jepang, Leave a Nest yang didirikan para Alumni Tokyo University bisa memiliki pola inkubasi yang lengkap. Tidak hanya sebagai Inkubator tetapi mereka juga sebagai Accelerator. Leave a Nest juga memiliki fasilitas yang lengkap sepertilaboratorium untuk produk yang belum siap, sistem pengujian yang baik, hingga pemasaran produk-produk startup yang dibina inkubator ini.

Ia berharap, Pemerintah bisa mendorong menciptakan ekosistem startup yang kuat di Indonesia. Menurutnya, pemerintah bisa menciptakan suatu lembaga pendanaan khusus startup di Indonesia, dengan memanfaatkan CSR-CSR perusahaan seperti yang dilakukan oleh negara maju.

Saat ini Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi juga mendukung kegiatan startup dengan program PPBT dan CPPBT. Dengan program tersebut, startup yang lolos seleksi dapat bantuan sampai dengan Rp200 juta, bahkan lebih jika produknya mempunyai peluang bisnis yang bagus.

Selain itu, saat ini sudah banyak bermunculan inkubator teknologi baik yang private, Pemerintah Daerah atau juga dari berbasis Perguruan Tinggi. Para inkubator saat ini tergabung dalam Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) yang salah satu pendirinya adalah Prof. Hadi K. Purwadaria.

Pemerintah juga sangat mendukung bertumbuhnya inkubator teknologi di Indonesia. Salah satu bentuk dukungannya adalah dengan memberikan bantuan kelembagaan kepada Inkubator yang sudah berjalan dan yang akan berdiri oleh Direktorat Kawasan Sains dan Lembaga Penunjang lainnya, Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti, Kemenristek Dikti. Direktorat tersebut juga yang mendanai Yusri dengan 14 inkubator lainnya ke Jepang.(bas/tin)
top