suarasurabaya.net

Membaca Kemungkinan Indonesia Menjadi Surga Jazz Dunia
Laporan Denza Perdana | Senin, 27 Agustus 2018 | 11:32 WIB

Idang Rasjidi dan sejumlah penyelenggara Festival Jazz dari berbagai lokasi di Indonesia berkumpul dalam Forum Jazz di di Kampung Media Suara Surabaya, Senin (27/8/2018). Foto: Totok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Sejumlah penyelenggara Festival Jazz dari berbagai lokasi di Indonesia berkumpul dalam Jazz Forum di di Kampung Media Suara Surabaya, Senin (27/8/2018).

Beberapa di antaranya ada Djaduk Ferianto, Idang Rasjidi, Sigit Pramono, juga penyelenggara festival jazz seperti Jazz Gunung, Jazz Kampung Jawi, Ngayogjazz, dan lain-lain. Mereka berkumpul dalam forum ini untuk menyamakan mimpi.

Beberapa yang dibicarakan di antaranya, tentang agenda festival jazz 2019. Terutama agar tidak terjadi tabrakan jadwal festival jazz di tanah air yang akan menyulitkan musisi.

Juga tentang mimpi menjadikan Indonesia sebagai Surganya Festival Jazz Dunia.

Errol Jonathans Direktur Utama Suara Surabaya Media mengatakan, forum ini ditujukan untuk menemukan sesuatu yang lebih prospektif dalam penyelenggaraan festival jazz.

"Saya melihat, gairah berfestival jazz ini semakin seru. Saking serunya sampai bertabrakan jadwalnya. Maka kita perlu membicarakan bagaimana mengatasinya," ujarnya.

Idang Rasjidi, musisi jazz senior mengatakan, tidak ada negara lain di dunia seperti Indonesia yang memiliki setidaknya 58 festival jazz yang tersebar di berbagai daerah.

Menurutnya beberapa musisi jazz di tahun 70-an sudah pernah bertemu membincangkan tentang ini. Tentang kemungkinan banyaknya Festival Jazz di tanah air. Juga tentang kemungkinan Indonesia menjadi Negara Jazz Dunia.

"Tahun 1975 saya ngobrol dengan beberapa musisi. Jack Lesmana juga Didik Prawoto. Semua sudah almarhum. Indonesia ini besar, kalau ada banyak jazz kita akan menjadi negara jazz dunia, itu Jack Lesmana di tahun 1975," katanya.

Idang juga membagikan pengalaman, bagaimana dia sempat berbincang dengan seorang musisi jazz internasional di salah satu festival jazz di tanah air.

"Namanya Maggie Jhonson, pianis, dia pengiringnya Benny Carlson. Kami ngobrol, soal Ngayogjazz, Ubud Jazz, Jazz Gunung, menurutnya di dunia ini orang sudah banyak yang membuat jazz festival, tapi tidak ada yang seperti di Indonesia, ada sesuatu yang khas," kata Idang. "Ini akan membuat Indonesia sebagai Surga Jazz Dunia."

Maka, salah satu gagasan yang muncul di awal forum ini adalah peluang ini untuk mewujudkan Festival World Jazz di Indonesia.

Namun, pada akhirnya, salah satu hal yang muncul ke permukaan adalah kehadiran negara dalam perhelatan festival jazz di tanah air. Dalam bentuk apa? Mereka di forum ini sedang membicarakannya.

"Negara memang perlu hadir. Atau dibalik aja, kita hadir dulu biar negara melihat," kata Idang.

Sementara Djaduk Ferianto, salah satu musisi senior yang dikenal dengan musik jazz etniknya mengingatkan pentingnya peran penyelenggara jazz dalam hal edukasi.

"Jadi kita sebagai penyelenggara, saya mengingatkan saja, punya tanggung jawab mengedukasi. Bukan hanya bagaimana menjalankan sebuah pagelaran musik," ujarnya.

Salah satu bentuknya, bisa berupa workshop, couching clinic, yang mana hal ini juga memungkinkan terjadinya regenerasi musik dan melahirkan musisi-musisi jazz baru.(den/dwi)
top