suarasurabaya.net

Musik Etnik Dunia Memperkaya Rumah Batu Dwiki Dharmawan
Laporan Agustina Suminar | Selasa, 11 Desember 2018 | 10:34 WIB

Dwiki Dharmawan musisi saat berada di Radio Suara Surabaya, Senin (10/12/2018) malam. Foto: Purnama suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Dwiki Dharmawan, musisi jazz asal Indonesia pada 15 Mei 2018 lalu merilis album ketiganya berjudul Rumah Batu. Pada album yang lebih bernuansa etnik dan berisi delapan komposisi lagu ini, merupakan hasil kerjasama Dwiki dengan musisi luar negeri yang merangkai berbagai musik etnik di dunia.

Menggandeng MoonJune Records, label musik di New York, Dwiki lebih banyak melakukan eksplorasi dan inovasi. Terlebih, ia juga berkolaborasi dengan beberapa musisi dunia seperti Charles Benavent (bass), Yaron Stavi (bass) dan Asaf Sirkis (drum) yang mana keduanya berasal dari London, serta Nguyen Le (gitar) musisi asal Vietnam yang lama tinggal di Perancis.

Menurutnya, menggali akar budaya bangsa-bangsa di dunia adalah hal menarik. Sehingga, musik dapat dijadikan karya yang menjadi rangkaian dari interaksi budaya tersebut.

"Saya melihat di dalam musik adanya suatu toleransi yang tinggi, kebersamaan, tenggang rasa, dan kebebasan berekspresi yang luas dan sebetulnya saya itu selalu ingin mencoba merangkaikan itu," ujar Dwiki Dharmawan saat mengunjungi Radio Suara Surabaya, Senin (10/12/2018) malam.

Judul album Rumah Batu sendiri dipilih karena rekaman album ini berada di Stone House, sebuah rumah batu peninggalan Kekaisaran Ottoman, yang terletak di Barcelona, Spanyol. Menurutnya, rekaman di Stone House membuat jiwa musik dalam album kali ini menjadi sangat alami.

"Akustik dalam album ini benar-benar alami tidak banyak dirubah-rubah karena rumah yang dibuat saat Islam berjaya di dataran Eropa memiliki akustik yang bagus sekali," tambahnya.

Selain tentang musik, Dwiki juga bercerita bagaimana sejarah juga menyumbangkan inspirasi bagi musik-musiknya. Seperti saat ia melakukan konser di Uzbekiztan, lalu ia mengungkapkan keinginan mengunjungi Samarkand, tempat dimana makam Imam Bukhari ahli hadist termansyur umat Islam.

"Dari sana (Samarkand, red), saya menggali style dan irama bermusik musik-musik di Uzbekiztan seperti apa. Dan dengan darah saya Indonesia, dan musisi yang bersama saya dari Eropa Barat, maka terjadilah cross culture karena ada melodi yang mempunyai rasa Uzbekiztan, ritmis Indonesia dan harmoni Eropa, dan semuanya bercampur," kata Dwiki.

Di dalam maupun di luar negeri, Dwiki Dharmawan memang terkenal sebagai musisi yang memiliki idealisme tinggi tentang musik, khususnya musik jazz. Tak pelak seperti album sebelumnya, Rumah Batu adalah karya yang mengandung kesenangan tersendiri baginya tanpa terkungkung oleh batasan dalam bisnis.

Meskipun begitu, karya Dwiki tetap mendapat banyak apresiasi dari media internasional. Musik dalam album Pasar Klewer misalnya, mendapat review sekaligus pujian dari berbagai platform dari berbagai penjuru dunia seeprti AS, Cile, Paraguay, Bolivia, Kroasia, Italia, dan Brasil.

"Saya menyukai kebebasan berekspresi dan tidak suka terpagari dengan batasan tertentu, seperti bisnis tertentu, yang membuat saya tertutup, takut mengeksplor ini itu. Saya berusaha justru ini jantung kehidupan bemusik saya yang jadi lebih spiritual," ujarnya.(tin)
top