suarasurabaya.net

Prof. Glinka, Pendidik Jempolan dan Pendiri Antropologi Unair Telah Berpulang
Laporan Agung Hari Baskoro | Jumat, 31 Agustus 2018 | 14:33 WIB

Karangan bunga di Universitas Airlangga Surabaya untuk Prof. Habil Josef Glinka. Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Prof. Habil Josef Glinka tokoh antropologi ragawi Indonesia, meninggal dunia pada umur 87 tahun di Rumah Sakit Katolik Vincentius A. Paulo, Surabaya, Kamis (30/8/2018) malam.

Beliau bersama Adi Sukadana mendirikan prodi Antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unair pada tahun 1985.

Toetik Koesbardiati, dosen Antropologi Unair sekaligus orang dekat Prof. Glinka, menceritakan kesan dan profilnya pada suarasurabaya.net.

Ia menjelaskan, perjumpaan pertama kalinya dengan Prof. Glinka adalah ketika ia menjadi mahasiswa Antropologi Unair di tahun 1986, setahun setelah prodi tersebut dibuka.

Saat itu, Toetik masih menjadi mahasiswa dan pada tahun 1990, ia menjadi mahasiswa bimbingan Prof. Glinka. Ia menceritakan, ketika mengerjakan skripsi, Prof. Glinka bahkan ikut ke Flores untuk penelitiannya.

Pada tahun 1991, Toetik menjadi asisten Prof. Glinka dengan minat Antropologi Ragawi.

Ia menceritakan, ketika menjadi dosen, Prof. Glinka adalah sosok pendidik yang jempolan. Ia mengerti dengan baik cara mengelola kelas dan memberi motivasi mahasiswa untuk belajar.

Ketika mengajar mata kuliah Antropogenese, Prof. Glinka selalu membawa tengkorak, menurutnya, belajar harus melihat benda aslinya, tidak hanya berkhayal.

Kata Toetik, Prof. Glinka memiliki cara-cara khusus yang membuat mahasiswa nyaman dan tidak merasa takut.

Prof. Glinka termasuk sosok pendidik yang jempolan. Ia tau mengelola kelas dan cara memotivasi mahasiswa untuk belajar.

Ia juga sosok yang tidak mudah menyalahkan. Ia lebih memilih untuk mencari tahu apa yang dipikirkan oleh mahasiswanya.

Ketika ditanya bagaimana hubungan Prof. Glinka dengan mahasiswanya, spontan Toetik langsung mengatakan bahwa ia adalah sosok yang sangat dekat dengan mahasiswanya.

Dengan kehadiran Prof. Glinka, Fisip Unair berhasil memiliki minat Antropologi Ragawi yang menjadi barometer di Indonesia, selain UGM.

Ia juga menceritakan, Prof. Glinka adalah sosok yang memikirkan regenerasi dengan baik. Ia menginginkan asisten-asistennya harus cepat melanjutkan studi. Ia mengarahkan asisten-asistennya untuk studi di berbagai bidang yang berbeda-beda.

Kata Toetik, ini adalah pola pikir yang baik, karena regenerasi lancar dan bisa memperkuat Antropologi Ragawi di Unair.

Ketika pensiun pada tahun 2012, Prof. Glinka sudah berhasil mempromotori asistennya hingga menjadi 1 profesor dan 2 doktor.

Meski sudah pensiun, beberapa kali ia masih tetap mengajar.

Ada satu pesan dari Prof. Glinka yang hingga saat ini menjadi semangat hidup bagi Toetik.

Kata Prof. Glinka yang ditirukan oleh Toetik, menjadi pintar saja tidak cukup. Orang harus rajin. Karena rajin bisa mengalahkan orang pintar. Karena dengan rajin itu, orang bisa membelah dunia.(bas/iss/ipg)


B E R I T A    T E R K A I T
  • Dekan Fisip Unair: Prof. Glinka Beri Banyak Semaian yang Mewarnai Perkembangan Fisip
  • top