suarasurabaya.net

Urban Design Fokus Utama ARDC 2018
Laporan J. Totok Sumarno | Kamis, 08 November 2018 | 17:37 WIB

Simposium ARDC 2018 fokus utama membahas pada urban design. Foto: Humas ITS Surabaya
suarasurabaya.net| Departemen Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya gelar simposium internasional Architectural Research and Design Conference (ARDC) 2018 di Hotel Bumi Surabaya, Kamis (8/11/2018).

Pada simposium tersebut dibahas tentang besarnya pengaruh peraturan bangunan terhadap perkembangan dunia arsitektur, dan tema yang dipilih: Do Design Codes Have an Impact to Innovation or Design Creativity?.

Angger Sukma Mahendra ST MT., ketua pelaksana simposium menyampaikan bahwa tema tersebut sengaja dipilih lantaran peraturan bangunan memiliki pengaruh yang besar terhadap dunia arsitektur mulai dari tahap perencanaan, pembangunan, maupun pengawasan bangunan.

"Pada gelaran yang diadakan untuk kali ke 10 ini, ARDC juga berfokus pada pembahasan urban design atau desain perkotaan," terang Angger.

Perancangan berkelanjutan pada skala kota saat ini, lanjut Angger, menjadi satu diantara aspek yang mulai diperhatikan oleh beberapa kota di Indonesia.

Hal tersebut lantaran urban design turut berpengaruh pada aspek lain seperti ekonomi, sosial, pendidikan.

Saat ini, inovasi dan kreativitas arsitek dalam mendesain bangunan maupun kota menemui tantangan baru, yaitu adanya beberapa peraturan yang bersifat mengikat.

Building codes (peraturan bangunan) tersebut memiliki beberapa efek dalam dunia desain dan arsitektur. Antara lain gaya desain yang akan terlihat homogen, kurangnya identitas, serta kurang tanggap dalam merespon perkembangan desain.

Dr Ing Ir Heru Wibowo Poerbo MURP, satu diantara pemateri simposium menyampaikan jika perencanaan tata ruang maupun peraturan bangunan sebenarnya bertujuan untuk menjaga keteraturan, keamanan, keselamatan, dan kenyamanan.

Menurut dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut, beberapa building codes yang diadaptasi dari negara barat kurang sesuai dengan kondisi di Indonesia karena perbedaan kondisi lingkungan, alam, serta teknologi.

"Oleh karenanya dibutuhkan regulasi yang telah disesuaikan dengan konteks lokal di Indonesia," papar Heru.

Heru juga menyinggung masalah peraturan bangunan di daerah wisata seperti Yogyakarta, Bali, Bandung, dan beberapa kota lainnya.

Menurutnya, saat ini dibutuhkan keseimbangan antara desain tradisional dan modern untuk menciptakan citra bangunan yang dapat diterima oleh khalayak luas.

Sementara itu, Prof Sung Hong Kim dari Universitas Seoul, Korea selatan menyampaikan jika larangan dan batasan yang diatur dalam building codes justru dapat memicu kreativitas.

"Arsitek dan desainer harus dapat menciptakan solusi desain yang mampu mengakomodasi kebutuhan manusia, namun tetap sesuai dengan aturan yang ada," kata Sung.

Dr Ing Ir Bambang Soemardiono, Dosen Arsitektur ITS Surabaya yang juga menjadi pembicara pada simposium tersebut menjelaskan jika konsep desain infill yang memadukan bangunan bersejarah dengan bangunan baru dapat pula menjadi solusi untuk menciptakan harmoni pada desain.

Acara ARDC 2018 ini juga dihadiri oleh pembicara yang berasal dari berbagai universitas di Indonesia seperti UGM, ITB, Universitas Bengkulu, Universitas Tarumanegara.(tok/rst)
top