Selasa, 30/11/1999 SURABAYA: °C ()
Kurs USD 21/02/2020 15:10:01 - Jual: Rp 13.845,89 | Beli: Rp 13.708,12
Home | SS Today | Kelana Kota | Politik | Ekonomi Bisnis | Olahraga | Info Teknologi | Potret Kelana Kota | Jaring Radio | Podcast | Suara Netter | Potret Netter | Kuliner | Resep | Wisata & Budaya | Agenda Kota
Login | Daftar | Lupa Password
SS Today: Oooh....Bawang Putihku

12 Februari 2020, 13:25:49| Laporan Denza Perdana

Kadin Jatim: Kelemahan Impor Holtikultura di Indonesia Adalah Data, Termasuk Bawang Putih

suarasurabaya.net| Yudi Purwoko Ketua Komite Tetap Pengendalian Impor Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jawa Timur menegaskan, kelemahan impor komoditas holtikulutura termasuk bawang putih di Indonesia adalah data. Karena lemahnya data itulah, seringkali terdapat perbedaan penyampaian angka oleh para pejabat pemerintahan. Misalnya soal ketergantungan impor bawang putih Indonesia.

"Saya dengar tadi yang dari Polda Jatim menyebutkan, 60 persen impornya. Yang jelas, setahu saya, itu 99 koma sekian persen. Paling besar memang dari China. Ada juga dari thailand. Tapi, yang saya dengar, yang dari Thailand ini tidak pernah masuk ke Indonesia. Thailand itu masuknya ke China, baru kita mengimpor dari sana," ujarnya kepada Radio Suara Surabaya, Rabu (12/2/2020).

Yudi yang mengaku sebagai eks petani bawang putih, tahu betul bagaimana bawang putih impor di Indonesia itu sangat dominan. Kepada suarasurabaya.net Yudi mengaku pernah jatuh (bangkrut) ketika menekuni usaha pertanian bawang putih. Dia pun mempertanyakan, apakah sekarang terekspos berapa banyak bawang putih hasil petani lokal di Jawa Timur?

"Di daerah Berastagi (Kabupaten Karo, Sumatera Utara), berapa produksinya? Di daerah Bali berapa produksinya? Di daerah Semeru, Jawa Timur, berapa? Di Batu berapa? Tidak pernah ada data itu. Di Jatim sendiri sebenarnya ada (bawang putih lokal). Saya dulu petani kok. Cuma, orang kita ini malas makan bawang lokal, karena kecil-kecil. Kulitnya lengket," ujarnya.

Dia menjelaskan, sebenarnya bawang putih lokal meski penampakannya kurang menarik tapi rasanya justru lebih kuat. Kulitnya yang lengket, tidak seperti bawang putih impor dari China atau dari negara lainnya yang memang mudah dikupas dan berukuran lebih besar. Selain rasa yang kuat, kata Yudi, bawang putih lokal tidak pernah direkayasa.

"Memang bawang lokal kita itu tidak pernah direkayasa (makanya penampilannya tidak semenarik bawang putih impor). Itu, kan, yang masuk ke sini, rekayasa semua. Itu semua tanaman rekayasa. Kita tidak pernah membuat tanaman rekayasa seperti itu. Sehingga kalau ada kejadian begini, karena 99 persen kita impor, ya kelabakan semua," katanya.

Dia juga sempat menyinggung soal hulu-hilir bawang putih. Ketika membicarakan itu, Yudi selalu mengaku bingung. Hulunya di mana, hilirnya di mana? Indonesia ini, kata dia, merupakan negara agraria, yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian petani. Tanahnya pun subur. Tapi khusus bawang putih yang menurutnya adalah kebutuhan pokok, Indonesia harus impor.

"Kalau sekarang, kan, kita hulunya impor dari negara lain terutama dari China, hilirnya ke end user di Indonesia. Harusnya, kita di Indonesia ini kan sebagai negara pertanian, hulunya kan di sektor pertanian. Hilirnya baru end user dalam negeri, atau bahkan di luar negeri, kan begitu. Saya bingung. Bingung sekali. Lalu, coba ditanya, deh. Importir itu kan ada kewajiban menanam bawang putih. Hasilnya mana?" katanya.(den/ipg)

berita-beritalain

arsip

Home | SS Today | Kelana Kota | Politik | Ekonomi Bisnis | Olahraga | Info Teknologi | Potret Kelana Kota | Jaring Radio | Podcast | Suara Netter | Potret Netter | Kuliner | Resep | Wisata & Budaya | Agenda Kota