Selasa, 30/11/1999 SURABAYA: °C ()
Kurs USD 21/02/2020 15:10:01 - Jual: Rp 13.845,89 | Beli: Rp 13.708,12
Home | SS Today | Kelana Kota | Politik | Ekonomi Bisnis | Olahraga | Info Teknologi | Potret Kelana Kota | Jaring Radio | Podcast | Suara Netter | Potret Netter | Kuliner | Resep | Wisata & Budaya | Agenda Kota
Login | Daftar | Lupa Password
Info Teknologi:

22 Februari 2020, 14:05:43| Laporan J. Totok Sumarno

ITS Rampungkan Kapal Perang Canggih The Croc

suarasurabaya.net| Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) segera rampungkan pembuatan The Croc, kapal perang canggih yang dapat berubah menjadi tiga mode sekaligus, bantu pertahanan nasional.

Ir Wisnu Wardhana perancang kapal perang tersebut, menyampaikan bahwa proses pembuatan kapal saat ini sudah mencapai 90 persen.

Kapal yang dilengkapi dengan dua mesin 350 tenaga kuda tersebut memiliki ukuran cukup ramping, panjangnya 12 meter dan lebarnya hanya 3 meter.

Kapal yang mulai dirancang sejak tahun 2011 ini, menurut Wisnu, dapat berubah menjadi tiga mode yakni Kapal Selam, Kapal Hidrofoil, dan Kapal biasa pada umumnya. "Tentu hal tersebut sukses menjadi temuan baru pada dunia perkapalan internasional," klaim dosen Teknik Kelautan ini.

Kapal Hidrofoil, terang Wisnu merupakan kapal yang memiliki bagian seperti sayap yang dipasangkan pada penyangga di bawah lambung kapal. Ketika kapal meningkatkan kecepatannya, kapal hidrofoil dapat menimbulkan gaya angkat yang menjadikan lambungnya terangkat dan keluar dari air. "Sehingga kapal terlihat seperti melayang," kata Wisnu.

Terbuat dari aluminium, lanjut Wisnu, kapal tersebut telah dirancang memiliki bobot yang cukup ringan supaya bisa melayang, sedangkan sayapnya sendiri terbuat dari baja karbon.

Ketika digunakan sebagai Kapal Selam, air dimasukkan ke dalam kapal untuk menurunkan posisi kapal tersebut. "Kedalamannya pun bisa mencapai sepuluh meter," kata Wisnu, Sabtu (22/2/2020).

Ketika menyelam, ujar Wisnu, kecepatan kapal ini bisa mencapai 15 knot. Sedangkan dalam mode hidrofoil, kecepatannya bisa mencapai 35 sampai 45 knot.

Wisnu mengungkapkan bahwa kapal ini cocok digunakan sebagai kapal pengintai yang bisa dipakai untuk menangkap para pencuri ikan di perairan Indonesia.

Alasannya, ujar Wisnu, kapal pencuri ikan tidak akan mengetahui kedatangan dari kapal perang ini ketika dalam mode selam, sehingga pencuri ikan tersebut tidak akan kabur ketika The Croc datang.

Dalam proses pembuatannya, Wisnu juga bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), dan beberapa pihak lainnya.

Harapannya, The Croc sebagai kapal perang buatan dalam negeri ini bisa membantu dalam menjaga pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), terkait adanya penyeludupan atau pencurian yang kerap terjadi di perairan Indonesia.(tok/bid)

berita-beritalain

- arsip berita -

Home | SS Today | Kelana Kota | Politik | Ekonomi Bisnis | Olahraga | Info Teknologi | Potret Kelana Kota | Jaring Radio | Podcast | Suara Netter | Potret Netter | Kuliner | Resep | Wisata & Budaya | Agenda Kota