suarasurabaya.net

Sebagian Madura Belum Tersentuh Listrik, Pemprov Targetkan Bauran EBT 14 Persen pada 2050
Laporan Denza Perdana | Kamis, 21 Maret 2019 | 16:31 WIB

Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur. Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur mengatakan, sebagian masyarakat di Kepulauan Madura belum menikmati aliran listrik. Pasokan BBM di wilayah-wilayah di Kepulauan Madura dia akui minim dan sering terjadi kelangkaan.

Tidak hanya di Kepulauan Madura, masyarakat di bagian selatan Jawa Timur juga belum sepenuhnya menikmati energi. Terutama masyarakat yang tinggal di hutan yang menjadi wilayah kewenangan Perhutani.

Khofifah menegaskan ini dalam Nota Penjelasan Gubernur Jawa Timur terhadap Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Provinsi Jatim 2019-2050, yang dia bacakan saat Rapat Paripurna di DPRD Jatim, Kamis (21/3/2019).

Penggunaan energi di wilayah Jawa Timur selama ini masih didominasi Bahan Bakar Minyak (BBM) baik untuk pembangkit listrik maupun kebutuhan sehari-hari. "Pemprov Jatim punya peranan dalam mencukupi kebutuhan listrik ini melalui energi terbarukan," ujarnya.

Khofifah menyampaikan, hingga 2017 lalu, masyarakat Jawa Timur yang telah menikmati energi listrik (rasio elektrifikasi) mencapai 91,4 persen. Pemprov pun menargetkan pencapaian rasio elektrifikasi 100 persen pada 2020 mendatang dengan mengoptimalkan potensi energi yang ada, terutama energi baru dan terbarukan (EBT).

Untuk itu, Pemprov Jatim pun menargetkan bauran EBT mencapai 14 persen dari total energi yang ada di Jatim pada 2050 mendatang.

Pengembangan EBT seperti energi panas bumi, tenaga surya, dan biomassa pun menjadi prioritas utama RUED Provinsi Jatim 2018-2050.

Menurut Khofifah, Jawa Timur memiliki potensi EBT yang cukup besar. Potensi energi panas bumi di Jawa Timur mencapai 1.372 mega watt (MW) tersebar di 11 titik seperti Gunung Welirang, Gunung Wilis, Gunung Ijen, Gunung Semeru, Gunung Bromo dan sejumlah gunung lainnya.

"Panas bumi merupakan energi terbarukan yang ramah lingkungan dan ke depan bisa menjadi andalan energi terbarukan untuk memenuhi target 14 persen bauran energi terbarukan pada tahun 2050," ujarnya.

Selain panas bumi, ada potensi energi tenaga surya sebesar 10.335 MW dan energi biomassa (pembangkit listrik tenaga sampah) yang saat ini dikelola Pemkot Surabaya sebesar 1,8 MW yang sudah dijual on grid kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Menurutnya, pengembangan EBT di Jawa Timur harus menjadi prioritas utama. Sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi di atas pertumbuhan nasional, dia memastikan, kebutuhan energi akan mengalami peningkatan cukup besar dari tahun ke tahun.

"Sampai saat ini, dapat kami sampaikan, Provinsi Jawa Timur dari sisi energi masih surplus, bahkan menjadi penyangga bagi provinsi lainnya baik di Pulau Jawa maupun di Wilayah Bali. Tapi kita merencanakan energi secara terarah," katanya.

Khofifah menyebutkan, selain surplus, potensi energi fosil di Jawa Timur memang masih cukup besar. Salah satunya, potensi energi gas bumi yang mencapai 5.377,9 miliar kaki kubik (BCF/billion cubic feet) dari lapangan Jimbaran Tiung Biru.

Rata-rata produksi gas di fasilitas ini, kata Khofifah, mencapai 315 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dengan perkiraan gas komersil mencapai 192 MMSCFD, yang ditargetkan mulai berproduksi (onstream) pada 2021 mendatang.

Sementara potensi minyak bumi dari Blok Cepu, menurutnya memiliki cadangan 729 juta barel dengan target produksi 220 ribu barel minyak per hari pada 2019 ini. Seluruh potensi itu, baik gas dan minyak ada di Kabupaten Bojonegoro.(den/tin/rst)
top