suarasurabaya.net

Optimisme Industri Mesin dan Alat Manufaktur Pasca-Pilpres
Laporan Denza Perdana | Sabtu, 20 Juli 2019 | 06:17 WIB

Mesin Pemotong Plat untuk berbagai kebutuhan industri furnitur dari First Machinery Trade Co di Surabaya, Jumat (18/7/2019). Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Pelaku industri mesin dan perlengkapan manufaktur di Indonesia optimistis akan pertumbuhan ekonomi pasca pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Mereka melihat, akan ada pertumbuhan positif industri manufaktur di Indonesia, termasuk di Jawa Timur.

Santosa Iswaratioso Presiden Direktur First Machinery Trade Co salah satu yang menyatakan optimisme itu. Katanya, setelah terpilihnya presiden, industri manufaktur memang sudah mulai menggeliat.

Industri suku cadang kendaraan bermotor salah satunya. Beberapa tahun terakhir industri ini menurutnya stagnan. Perusahannya turut terdampak karena penjualan mesin pemotong metal juga mengalalami stagnasi.

"Dengan terpilihnya presiden, orang (pelaku industri suku cadang) melihat-lihat (situasi, red) lagi setidaknya sampai akhir tahun," katanya di pameran mesin Manufacturing Surabaya, Grand City Convex, Jumat (19/7/2019).

Peluang industri suku cadang, menurutnya akan terus berkembang seiring perkembangan infrastuktur yang ada. Peluang pertumbuhan industri ini semakin besar setelah Tol Trans Jawa tersambung.

Keberadaan Tol Trans Jawa, menurutnya akan meningkatkan kebutuhan masyarakat akan kendaraan dan suku cadangnya. Inilah yang menurutnya jadi peluang mendorong pertumbuhan positif industri otomotif.

Industri manufaktur Indonesia juga berpeluang tumbuh positif akibat perang dagang antara Amerika Serikat dengan China. Pelaku industri internasional banyak yang memindah lokasi pabriknya ke luar China. Salah satunya ke Indonesia.

Menurutnya, migrasi industri manufaktur itu akan berdampak positif pada pertumbuhan industri mesin presisi, seperti yang dipasarkan perusahaannya. Ini karena penggunaan mesin presisi kapasitas besar di Indonesia masih kurang.

"Perlu dikenalkan mesin-mesin pengerjaan metal dan plat secara presisi dengan kapasitas besar. Harapannya, nanti barang-barang presisi ini bisa diekspor ke Eropa, ke Amerika, dan sebagainya,," katanya.

Santosa mencatat, pertumbuhan penjualan di perusahannya yang paling positif adalah mesin pemotong plat. Mesin itu banyak digunakan industri furnitur. Sekitar 20 sampai 30 perusahaan furnitur di Jawa Timur dan Jawa Tengah memakainya.

"Di Jawa Timur ada seperti di Malang, Sidoarjo, Surabaya. Cukup banyak sebenarnya," katanya.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan, industri furnitur memang mengalami pertumbuhan paling tinggi dibandingkan sektor lainnya. Tumbuh 14,27 persen dari triwulan keempat 2018 dibandingkan triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan yang cukup signifikan pada Industri furnitur dalam negeri tumbuh ini berjalan seiring dengan membaiknya bisnis properti tanah air. Selain diserap oleh properti dalam negeri, furnitur tanah air juga tidak sedikit yang diekspor.



Mesin Pemanggang Kopi Digital PT TRG di Manufacturing Surabaya, Jumat (18/7/2019). Foto: Denza suarasurabaya.net

Optimisme juga dinyatakan Ribut Susilo Direktur Operasional PT Tata Rapika Globalindo (TRG). Dua tahun terakhir perusahaan yang berpusat di Sidoarjo, Jawa Timur itu membuat dan memasarkan mesin pemanggang kopi digital.

Perusahaan itu melihat peluang meningkatnya minat masyarakat terhadap kopi berkualitas.

Sebenarnya, bidang utama PT TRG adalah pembuatan mesin pencetak lembaran metal. Analisis perusahaan itu atas peluang yang ada cukup tepat. Terbukti mesin-mesin pembuat kopinya dilirik pasar Industri Kecil Menengah dan UMKM.

"IKM kopi semakin banyak di Aceh, Bogor, Lampung, dan Medan. Mesin kami juga mulai dipakai industri besar seperti Kapal Api. Tapi yang paling banyak tumbuh adalah UMKM. Cafe-cafe itu berkembang pesat sampai ke kota-kota kecil," katanya.

Mesin pemanggang kopi digital yang dibuat perusahaannya mengadopsi mesin kopi tertua buatan Jerman, Probat. Dengan teknologi digital, mesin pemanggang kopi itu mampu merekam pengaturan mesin untuk berbagai jenis kopi.

"Ini, mesin yang besar kapasitasnya 10 kilogram per batch (per sesi). Ada yang lebih kecil, 1 kilogram per sesi. Kebetulan yang kecil sudah sold out makanya tidak kami bawa ke pameran," katanya.

Ribut mengatakan, dia optimistis setelah pemilihan presiden ini iklim industri kopi di tanah air semakin tumbuh pesat. Apalagi bila pemerintah serius dengan rencana kemudahan investasinya, misalnya berkaitan pajak.

"Kami ini, kan, butuh penyuplai, butuh pelanggan. Nah, kalau iklim investasi membaik, ya, misalnya pajaknya semakin ringan, saya yakin IKM dan UMKM produk hasil olahan kopi ini akan terus meningkat. Bisnis kami otomatis juga meningkat," katanya.

First Machinery Trade Co dan PT TRG hanya sejumlah kecil perusahaan eksibitor di pameran mesin Manufacturing Surabaya. Lebih dari 270 perusahaan industri manufaktur dari 15 negara yang mengikuti pameran itu.

Beberapa perusahaan ternama di industri manufaktur seperti Autonics, Brother, ETA Indonesia, Epson Indonesia, Guhring, Hitachi Asia dan lain sebagainya menjadi peserta pameran di Grand City Convex yang dibuka sejak Rabu (17/7/2019) sampai besok, Sabtu (20/7/2019).

Maysia Stephanie, Event Director PT Pamerindo Indonesia mengatakan, dia berharap semua mesin, perlengkapan dan peralatan manufaktur yang dipamerkan di Indonesia menjawab kebutuhan dan tantangan industri manufaktur dalam negeri.

"Kami berharap pameran ini dapat mendukung dan mengubah masa depan industri manufaktur Indonesia lebih baik lagi," katanya dalam keterangan pers beberapa waktu lalu.(den)
top