suarasurabaya.net

Kolaborasi Menguatkan Usaha Rakyat dengan Bank Wakaf Mikro
Laporan Zumrotul Abidin | Minggu, 10 November 2019 | 22:12 WIB

Salah satu usaha keripik singkong milik nasabah BWM Al-Fithrah Wava Mandiri. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net| Suasana kampung Kedinding Tengah IX, Surabaya, Sabtu (9/11/2019) pagi, sepi tidak seperti biasanya. Tanggal merah. Sejak kemarin, beberapa warga di permukiman padat penduduk itu pergi. Mereka manfaatkan hari libur untuk pulang ke kampung halaman.

Sementara, di beberapa lokasi di Surabaya, cukup jamak masyarakat mengikuti berbagai kegiatan meneladani ajaran dan akhlak Nabi Besar Islam dalam momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Jarum pendek jam dinding di atas meja mesin jahit di ruang tamu, di salah satu rumah di kampung Kali Kedinding Tengah IX, hampir menunjuk angka sembilan. Herlina sudah tuntas melakukan semua aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga: sejumlah pakaian sudah dijemur di depan rumah.

Suasana di ruang tamu berukuran empat kali tiga meter, dengan korden sederhana pemisah kamar dan bagian belakang rumah, tampak lengang meski penuh barang. Di seberang meja mesin jahit yang penuh benang rajut warna-warni itu ada meja televisi selebar setengah meter lebih.

Sebuah kasur busa sepanjang dua meter di depan meja televisi disandarkan ke tembok untuk menghemat ruang. Lalu ada tumpukan barang-barang lain di dekat jendela ruang tamu itu.

Di antara barang-barang itu, tergeletak sejumlah botol kosong 330 mililiter terbungkus plastik. Setelah mempersilakan dua tamunya masuk sambil meringkas botol-botol itu, Herlina minta izin menyelesaikan aktivitasnya.

"Maaf, Pak Suroso, ruang tamunya berantakan. Saya baru selesai masukkan sinom ke botol. Ini tinggal masukkan ke kulkas. Silakan duduk. Sampeyan mau sinom?" Tanya Herlina dari lorong tempat kulkas berada.

Pria yang dia panggil Suroso segera mengiyakan tawaran Herlina. Minuman dingin di pagi yang sudah terasa gerah itu sangat sayang untuk ditolak. Herlina pun membawakan dua botol sinom untuk dua tamunya.

Pagi itu, Nur Komari, suami Herlina sudah berangkat mengantar 35 botol sinom ke rumah salah satu reseller-nya. Karena libur, Nur Komari yang pekerja Pabrik Bimoli di kawasan Perak mengajak serta Didi, putra bungsu mereka, ke rumah neneknya.

Sedangkan Dafa, putra sulungnya, pagi itu ada kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Mereka berangkat setelah sarapan, sekitar pukul 07.00 WIB, meninggalkan Herlina sendiri di rumah menuntaskan pesanan sinom untuk sore hari.

Herlina adalah satu dari kurang lebih 200 warga Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kenjeran, Surabaya, yang jadi nasabah aktif Bank Wakaf Mikro (BWM) Al Fitrah Wafa Mandiri. Satu dari 54 BWM yang diresmikan Joko Widodo Presiden sejak 2017 lalu.

"Pas gabung Halmi (halaqoh mingguan) saya baru mulai bikin sinom. Waktu itu, sehari saya cuma bikin 35 botol untuk satu reseller, sekarang saya sudah punya dua reseller. Bikin 70 botol sehari," ujarnya kepada suarasurabaya.net.

Pinjaman modal dari BWM yang membuatnya berani menerima pesanan sinom lebih banyak. Herlina sudah dua kali meminjam modal di BWM. Pertama, sekitaran awal 2018 lalu dia pinjam Rp1 juta, lalu baru-baru ini dia pinjam Rp1,5 juta.

Pinjaman yang dia dapat dari BWM dia alokasikan untuk modal usahanya yang dia beri merek D'9 namun belum dia patenkan. Buat beli kunyit, asam, dan gula pasir bahan minuman sinom (menurutnya sudah sulit mencari daun sinom), juga untuk membeli benang rajut.

Usaha kerajinan tangan rajut baik berupa peci, tas, dan bentuk kerajinan lainnya justru dia mulai lebih awal. Herlina mengaku terbiasa merajut sejak kecil. Dia bahkan sempat melatih nasabah lain di BWM supaya mahir merajut.



Herlina (jilbab hitam) saat mengajar cara merajut kepada nasabah BWM lainnya. Foto: Istimewa

"Tadinya ada 10 ibu-ibu yang saya latih dan saya ajak usaha bareng. Jadi kalau ada pesanan bisa dikerjakan sama-sama. Istilahnya, merajut mimpi sama-sama. Tapi, karena mungkin yang lain sibuk, sekarang tinggal empat orang," katanya.

Jauh sebelum bergabung menjadi nasabah BWM, Herlina mengaku harus pintar-pintar mengatur uang belanja dari suaminya. Dia sisihkan sebagian uang itu untuk modal usaha yang sudah dia rintis sejak lama.

"Setelah dapat pinjaman dari BWM saya jadi berani menerima pesanan lebih banyak, baik sinom maupun kerajinan rajutan yang saya pasarkan seadanya ke tetangga dan teman atau lewat media sosial," katanya.

Ringannya skema pembiayaan BWM yang dikelola Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) berbadan usaha koperasi itulah yang bikin nasabah terbantu. Pinjaman maksimal Rp3 juta tanpa bunga dan tanpa agunan itu bisa dicicil selama 40 minggu.

Selain sudah punya dua pelanggan yang masing-masing mau membeli 25-35 botol sinom setiap harinya, Herlina juga sudah beberapa kali menerima pesanan rajut dari Tegal, Jawa Tengah, dan Palembang, Sumatera Selatan.

Tidak hanya Herlina yang sudah merasakan manfaat jadi nasabah BWM Al Fitrah Wafa Mandiri. Harsini warga Kampung Kedinding Tengah berhasil mengembangkan usaha keripik pisang dan singkong yang dia pasarkan ke pertokoan di sekitar Ampel.

"Alhamdulillah, sekarang kami sudah bisa bikin 500 sampai seribu bungkus per hari dengan dibantu tujuh karyawan. Sebelumnya, saya cuma ada empat karyawan, cuma bisa bikin 200 sampai 300 bungkus," ujar Harsini.

Baik Harsini maupun Herlina, mereka punya prinsip yang sama, yang sudah jarang ditemui di kalangan pedagang: ambil untung sedikit yang penting usaha lancar. Mereka juga tidak meminjam modal selain dari BWM karena takut riba.

"Beberapa kali di Halmi itu kami dapat siraman rohani. Pinjaman di BWM ini kan pinjaman syariah, tanpa riba. Di situ kami diajari tentang pinjaman yang benar. Jadi, di BWM, kami difasilitasi modal supaya tidak terlibat pinjaman riba," kata Herlina.

Halaqoh Mingguan dan Kendala Operasional

Meski merasa terbantu dengan modal yang didapat dari BWM Al Fitrah Wafa Mandiri, Herlina mengakui, masih ada satu hal yang belum dia dapat dari pertemuan Halaqoh mingguan (Halmi) yang digelar BWM.

BWM yang menjadi bagian Pondok Pesantren As Salafi Al Fitrah Kali Kedinding lebih sering memberi materi pemahaman tentang agama dan pembinaan keluarga di Halmi. Dia berharap, setidaknya ada ilmu pengembangan usaha yang bisa dia dapat.

"Yang belum saya dapat setiap kali ikut Halmi itu bekal. Bekal ilmu bisnis. Ya, paling tidak ada materi motivasi bisnis atau materi pemasaran, supaya usaha saya bisa berkembang," katanya.

Makin kemari, pertemuan yang tadinya digelar setiap minggu itu, sekarang digelar dua minggu sekali. Kendalanya, selain kurang tenaga, BWM Al Fitrah Wafa Mandiri selama ini terkendala biaya operasional.

Suroso Pengurus Koperasi LKMS BWM Al Fithrah Wava Mandiri yang bertamu ke rumah Herlina dan Harsini bersama suarasurabaya.net mengakui, empat karyawan di BWM kurang memadai untuk menggelar Halmi setiap minggu.



Suroso (paling kanan) bersama rekannya di BWM Al-Fithrah Wava Mandiri. Foto: Istimewa

Masalah akan muncul kalau ada tenaga BWM yang cuti. Padahal, BWM tidak memiliki biaya operasional lebih banyak untuk menambah tenaga. Belum lagi, dana bagi hasil itu, menurut Suroso, belum cair.

"Karena itu kami tidak berani menambah tenaga. Sebetulnya sangat butuh, terutama untuk mendampingi nasabah di Halmi yang digelar setiap minggu. Tetapi kami berupaya memaksimalkan yang ada," ujar Suroso.

Kondisi dana operasional itulah yang membuat BWM sulit mendatangkan mentor pengembangan usaha untuk melatih ratusan nasabah di wilayah Tanah Kali Kedinding, yang terbagi menjjadi lima kelompok Halmi.

Untuk mengatasi jarangnya mentor usaha yang diundang ke Halmi, Suroso berupaya menyiasatinya dengan menyiapkan buku panduan yang berisi tiga hal. Tentang keagamaan, manajemen keluarga, dan manajemen usaha.

Suroso ingin nasabah BWM Al Fithrah Wava Mandiri, di masa mendatang dapat pengetahuan bagaimana produk-produk usaha mereka dijalankan dengan proses lebih baik, higienis, dan punya pasar yang lebih luas.

"Kami juga ingin memfasilitasi nasabah dengan branding produk, baik perizinan seperti sertifikasi Halal MUI, PIRT dari Dinkes, juga pemasaran, bekerja sama dengan minimarket milik Pondok Pesantren lain," ujar Suroso.

Selama ini, sebagian produk nasabah dipasarkan ke minimarket Al Wafa milik Pondok Pesantren As Salafi Al Fithrah. Ada potensi, produk-produk itu juga dipasarkan di Basmalah Minimarket Ponpes Sidogiri, misalnya, juga minimarket Sakinah milik Ponpes Hidayatullah.

Dr Imron Mawardi Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Jatim mengatakan, sejak awal tujuan pembentukan LKMS sebagai pengelola BWM memang bukan murni komersial. Unsur sosial pemberdayaan mikro kecil dan orang miskin dikedepankan.

"Mengangkat derajat orang miskin dengan diberi fleksibilitas tinggi, karena untuk pinjam ke bank konvensional, mereka mungkin kurang bankable," katanya kepada suarasurabaya.net.

Karena sifatnya yang tidak komersial inilah beberapa permasalahan operasional akan muncul. Menurutnya, semua pihak terkait, karena program BWM ini adalah program kolaboratif, harus memikirkan solusi cepat agar BWM yang mengalami kendala operasional bisa mengatasi masalahnya.

Salah satu yang dia sarankan, problem operasional BWM itu bisa diatasi bila setiap BWM bisa membuka koperasi sekunder sebagai penopang usaha. Dia yakin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan membantu regulasinya.

"OJK sebagai regulator bisa mensupport peningkatan kapasitas LKMS. OJK tentu sangat mendorong, karena OJK ingin jumlah LKMS menjadi lebih banyak dan menjadi solusi kemiskinan," katanya.

Imron mengatakan, selama ini OJK memberi kemudahan terhadap hadirnya LKMS mengingat potensinya yang memang besar. Pembiayaan mikro, kata Imron, memiliki margin besar dan sangat menarik sebagai lembaga keuangan.

"Contohnya Baitul Maal wa Tanwil (BMT) yang ada di bawah Kementerian Koperasi. Itu marginnya besar," katanya.

Karena LKMS BWM berbadan hukum koperasi, Imron bilang, sangat mungkin LKMS membentuk koperasi sekunder demi memperlancar ekses likuiditas. Koperasi penopang nantinya bisa berfungsi sebagai lembaga penjamin simpanan (LPS).

"Secara filosofis usaha BWM ini kan dari pemerintah. Tapi setelah jalan seharusnya bisa berkembang sendiri. LKMS bisa menerima simpanan dari pesantren. Sekolah juga bisa menyimpan di situ, dan pembayaran SPP juga bisa lewat BWM," katanya.

Bersinergi dengan Program Pemerintah Daerah

Bank Wakaf Mikro (BWM) sebagai lembaga keuangan mikro syariah di lingkungan pondok pesantren sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Timur di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa Gubernur.

Dr Imron Mawardi yang juga Pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga menilai, keberadaan BWM menjadi sangat penting dikaitkan dengan program One Pesantren One Product (OPOP) yang digagas Khofifah.

Ada lebih dari enam ribu pesantren di Jatim yang siap menghasilkan produk khas masing-masing. "BWM sebagai lembaga keuangan menjadi seperti pelumas ekonomi. Karena ketika pesantren siap berproduksi, mereka butuh pendanaan," katanya.

Sinyal sinergitas antara BWM dengan program OPOP ini sempat tersirat dari pernyataan Khofifah saat membuka Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2019 di Surabaya, beberapa waktu lalu.

"Kami punya pesantren banyak, banyak sekali SMK berbasis pesantren yang punya produk unggulan. Mereka pun butuh pembiayaan dan pendampingan agar bisa berkembang," katanya.

Saat ini, program OPOP sudah memiliki landasan hukum berupa Peraturan Gubernur (Pergub) Jatim. Khofifah berharap, geliat ekonomi syariah di enam ribu lebih pesantren di Jatim bisa dipercepat.

Sementara itu, Pemerintah Pusat bekerja sama dengan OJK terus memperluas keberadaan BWM di berbagai daerah di Indonesia. Jawa Timur sekarang sudah punya 15 BWM dari total 54 BWM yang ada di berbagai pesantren di Indonesia.

Wimboh Santoso Ketua Dewan Komisioner OJK beberapa waktu lalu mengatakan, keberadaan BWM telah mendorong usaha ekonomi mikro rakyat yang selama ini kesulitan mendapat permodalan.

OJK mencatat, total pembiayaan yang disalurkan seluruh BWM yang ada mencapai Rp29,33 miliar kepada 22.668 nasabah di seluruh Indonesia. Sementara di BWM Al Fithrah Wava Mandiri, pembiayaan yang disalurkan sudah mencapai sekitar Rp300 juta untuk lebih dari 300 orang nasabah.

Namun, perlu kiranya setiap pihak yang terlibat dalam program BWM ini meningkatkan kolaborasi untuk menjawab harapan dari Herlina, warga Kali Kendiding IX yang menjalankan usaha kerajinan rajut dan minuman sinom.

Tidak hanya modal dan bekal pengetahuan di bidang keagamaan dan manajemen keluarga, Herlina, mungkin juga ratusan nasabah BWM Al Fithrah lainnya berharap mendapatkan bekal ilmu manajemen dan pengembangan usaha.(den)
top