suarasurabaya.net

Hendry Satriago: Customer Engagement untuk Hadapi Ombak Besar Perekonomian
Laporan Agung Hari Baskoro | Kamis, 05 Desember 2019 | 16:21 WIB

Hendry Satriago CEO General Electric Indonesia saat menjadi pembicara dalam Suara Surabaya Economic Forum (SSEF) di Lantai 4 Ballroom Grand City Convex, Surabaya pada Kamis (5/12/2019). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Dunia ekonomi global dikatakan tengah menghadapi ombak besar (Big Wave) perekonomian. Hendry Satriago CEO General Electric Indonesia mengatakan, ombak besar ini masih permulaan.

Ia mengatakan, dunia saat ini tengah menghadapi kondisi yang benar-benar berbeda. Customer Satisfaction yang dulu dianggap kunci keberlangsungan bisnis kini tak lagi cukup. Perlu ada customer engagement.

"Customer need. Ketahuilah yang diinginkan pelanggan anda. Lalu anda buat barangnya, produce, ini (misal, red) manufacturing, jasa, sebagainya, ada yang dijual. Sesudah itu, anda deliver. Jual marketing, logistik, sampai ke tangan customer, Pastikan ada customer satisfaction. Tapi tak berhenti disitu. Harus masuk ke customer engagement. Keterkaitan," ujar Henry saat menjadi pembicara dalam Suara Surabaya Economic Forum (SSEF) di Lantai 4 Ballroom Grand City Convex, Surabaya pada Kamis (5/12/2019).

Lebih lanjut, ia menjelaskan, 5 perusahaan top dunia saat ini mampu membentuk customer engagement ini. Perusahaan yang semuanya berbasis digital ini mampu membangun keterkaitan antara customer dengan brand.

"Lima perusahaan besar dunia, (peringkat, red) 1 Apple, market kapitalisasinya hampir 1 triliun USD. Jualannya handphone. Kedua, Google. Mereka berjualan dari iklan. Setiap ada yang nyari (produk anda, red), anda pengen produk anda di atas (google search, red), anda harus bayar. Setiap kali ada orang ngeklik, anda bayar. Tapi setiap klik, anda punya kesempatan jualan lebih banyak. Anda membayar dengan senang sekali. Itu yang dilakukan Google. Kapitalisasi 880 miliar USD. Yang pakai Google gratis, gak usah bayar," jelasnya.

"Ketiga, Amazon, apa aja diamazonkan. Mereka mengejar yang disebut enggagement. Ketika beli, datanya dikirim semua. Nanti ada push email (ke pembeli, red). Kebanyakan orang akan delete. Sesudah 59 kali, push email itu, anda akan membeli yang kedua. Itulah enggagement. Perushaan keempat microsoft. Jualan software. Kelima, tensend, perusahaan games. Kapitalisasinya 550 miliar USD. Download apps-nya gratis. Pilih gamesnya. Jualan item di games. See the world different?" lanjutnya.

Ia mengatakan, saat ini kehidupan manusia mengalami akselerasi akibat percepatan teknologi yang ada. Kondisi ini dikatakannya benar-benar diluar dugaan. Sekali lagi, ia menegaskan, ini hanya permulaan dari ombak besar yang ia maksud.

"Ini hanya permulaan ombak besar. Kedepannya ada robot, 3D Printing, artificial intelegence, IoT (Internet of things, red). Ini akan menjadi dunia berbeda. Apakah kita siap, apakah indonesia siap, datanya sih kita belum. We're not ready. Karena itu, pemerintah saat ini fokusnya di SDM," katanya.

Untuk menghadapi kondisi ini, pelaku bisnis tak bisa lagi berfokus pada komoditas. Mereka harus sudah bergeser pada value atau menjual nilai yang masuk ke blue ocean atau wilayah bisnis yang jarang digarap. Nilai ini juga, yang kata Henry menjadikan banyak perusahaan berbasis teknologi informasi bisa berada di 5 besar perusahaan dunia mengalahkan perusahaan-perusahaan lain yang berbasis manufaktur dan sumber daya alam. (bas/tin/dwi)
top