suarasurabaya.net

Dampak Ekonomi MRT dan LRT bagi Kawasan Gerbangkertasusila
Laporan Agung Hari Baskoro | Rabu, 15 Januari 2020 | 13:17 WIB

Desain Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rapid Transit (LRT) Jawa Timur. Foto: Dok. suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Pembangunan MRT dan LRT di kawasan Gerbangkertasusila yang sedang diwacanakan Pemprov Jatim dinilai pengamat akan membawa banyak dampak positif bagi perekonomian, jika berhasil dibuat.

Gigih Prihantono pengamat ekonomi Unair mengatakan, setidaknya ada empat sektor yang akan terdampak positif.

Pertama, yaitu sektor pariwisata. Menurutnya, kemudahan orang berpindah tempat dari satu daerah ke daerah lain akan meningkatkan kunjungan orang di kawasan Gerbangkertasusila.

Kedua, yaitu sektor tenaga kerja. Dengan adanya MRT dan LRT lintas kota ini, link and match antara pemberi dan pencari kerja menjadi lebih mudah.

"Pembangunan MRT dan LRT paling besar kalau kita ngomong sektoral kan ada perpindahan orang dari misalnya ujung Sidoarjo ke ujung Gresik dengan sangat mudah. Secara sektoral itu akan sangat-sangat berdampak sekali multisektornya. Misal orang berpindah tempat dengan baik ke tempat wisata. (Pariwisata, red), yang pertama. Kedua, kerjaan. Misal di daerah Sidoarjo (pemberi kerja, red) butuh keahlian khusus, tapi yang memiliki keahliannya ada di Gresik. Selama ini itu kan tidak terkoneksi sehingga orang gresik males kerja di Sidoarjo. Dengan ada MRT ini, mempermudah orang Gresik ke Sidoarjo. Artinya link and match pencari dan penyedia kerja lebih baik," ujar Gigih pada Rabu (15/1/2020).

Sektor ketiga, yaitu sektor transportasi. Sebagai angkutan massal berbasis rel, MRT dan LRT membutuhkan moda transportasi penunjang untuk memudahkan konektivitas pengguna ke tempat tujuan.

"Karena MRT dan LRT kan gak bisa turun sampai di depan (tempat yang diinginkan, red) wisata atau apa. Butuh angkutan umum tambahan. Yang diuntungkan juga transportasi," katanya.

Selain itu, sektor keempat yang mendapatkan keuntungan adalah properti. Properti yang lahannya berada di dekat stasiun pemberhentian kereta akan bertambah nilai jualnya.

"Fungsi lahan kan dilihat dari posisi strategisnya. Dibilang strategis itu adalah seberapa banyak fasilitas publik yang ada di tempat tersebut. Dengan ada MRT dan LRT, bisa meningjatkan nilai jual properti yang dekat sengan pemberhentian kereta," jelasnya.

Selain itu, masyarakat juga diuntungkan dengan turunnya biaya konsumsi BBM. Gigih meyakini, masyarakat yang ingin bepergian keluar kota untuk bekerja dengan satu destinasi, nantinya akan lebih memilih moda transportasi massal ini daripada menggunakan kendaraan pribadi.

Sedangkan, untuk orang yang bepergian dengan destinasi lebih dari satu kota, kemungkinan masih akan memilih kendaraan pribadi.

"Keuntungan ekonominya, satu, misal dia dari Gresik ke Sidoarjo hanya untuk kerja, itu enak naik MRT. Karena biayanya lebih murah. Tapi kalau misal dia multiple tempat, biasanya bisa lebih mahal naik MRT. Tapi itu balik lagi ke tingkat pendapatan atau kemampuan membayar dia. Jadi kemauan dan kemampuan membayar dia. Apakah nanti karcis MRT itu sesuai dengan kemampuan membayarnya," kata Gigih.

Sebagai informasi, proyek transportasi massal yang menghubungkan kawasan Gerbangkertasusila ini masuk dalam lampiran Perpres 80/2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan di Jatim. Daerah yang masuk dalam proyek bernama Surabaya Regional Railways Line ini diantaranya yaitu Kota Surabaya, Kabupaten Lamongan, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto dan Kota Mojokerto.(bas/tin/ipg)
top