suarasurabaya.net

Penjualan Terompet Tahun Baru Tak Semeriah Warnanya
Laporan Agung Hari Baskoro | Minggu, 30 Desember 2018 | 15:48 WIB

suarasurabaya.net| Setiap menjelang tahun baru, masyarakat Surabaya akan mudah menemui penjual terompet di jalan-jalan ramai, salah satunya di Jalan Tambak Sari Surabaya. Memasuki Jalan Tambak Sari, pengendara akan langsung melihat deretan pedagang terompet yang berjajar di sisi sebalah kiri jalan.

Namun, di balik meriahnya warna-warni terompet yang dipajang, beberapa pedagang mengaku penjualan terompet selalu menurun.

Amin dan Ridho salah satunya. Dua pedagang terompet yang berada di Jalan Tambak Sari ini mengaku, tahun ini mereka hanya mampu menjual 4-5 terompet sehari. Angka ini termasuk kecil bagi mereka yang telah menggeluti usaha ini sejak tahun 2000-an.

"Tambah sepi, tambah tahun tambah nggak ada peminatnya", ujar Amin yang duduk di trotoar sambil memandang barang dagangannya pada Minggu (30/12/2018).

Hal serupa juga disampaikan oleh Ridho. Ia menilai pedagang terompet memang semakin banyak, tapi pembelinya yang semakin sedikit. Menurutnya, masyarakat sudah tidak terlalu antusias merayakan tahun baru dengan terompet.

Kedua pedagang ini menjual terompetnya dengan harga bervariasi. Untuk terompet tiup dihargai Rp 15.000 dan terompet gas seharga Rp 25.000 hingga Rp 45.000. Selain terompet, mereka juga menjual gas butan untuk terompet dengan harga sekitar Rp 10.000.

"Jual ini (gas butan, red) juga mas, soalnya rata-rata orang beli gasnya doang, terompetnya sudah beli tahun kemarin", kata Ridho.


Gas butan dan terompet yang banyak dijual pedagang menjelang tahun baru di Jalan Tambak Sari. Foto: Baskoro suarasurabaya.net

Tak hanya mereka berdua, Roni, pedagang terompet lain di Jalan Tambak Sari mengaku penjualan memang turun dari tahun ke tahun. Namun berbeda dengan dua pedagang sebelumnya, ia mengaku masih bisa menjual 50 barang dagangannya setiap harinya. Tidak hanya terompet, tetapi ia juga menjual bando khas tahun baru berbagai bentuk.

"Sepi mas, nggak seramai tahun-tahun kemarin. Turunnya bisa setengah dari tahun kemarin", ujar Roni yang sudah menggeluti usaha terompet sejak tahun 2005 itu.

Sebagai informasi, semua pedagang di Jalan Tambak Sari menjual terompet berbaham plastik. Mereka sudah tidak menjual terompet berbahan kertas sejak beberapa tahun lalu. Pasalnya, mereka menilai terompet kertas rawan rusak dan sudah jarang diminati. Rata-rata pedagang ini sudah mulai berjualan 2 minggu sebelum tahun baru. (bas/tin/iss)

B E R I T A    T E R K A I T
  • Terompet Tidak Tularkan Penyakit Berbahaya
  • SS TODAY LAINNYA

    top