suarasurabaya.net

Mahasiswa Arsitektur Untag Surabaya Rancang Bangunan SMK Inklusif
Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 21 Februari 2020 | 18:54 WIB

suarasurabaya.net| Mahasiswa program studi Teknik Arsitektur Untag Surabaya, Jumat (21/2/2020) merancang bangunan SMK Inklusif yang pertama di Indonesia, sebagai jawaban tidak banyaknya bangku atau sekolah khusus bagi siswa-siswi inklusif.

Sebagai kota pelopor penyelenggara Pendidikan Inklusif di Jawa Timur sejak tahun 2009, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sudah menghadirkan pendidikan inklusif untuk jenjang SD, SMP sampai dengan SMA atau SMK.

Sayangnya, rasio penerimaan bagi siswa inklsusif yang ingin melanjutkan pendidikan di jenjang lebih tinggi, seperti mereka yang dari SD ke SMP atau dari SMP ke SMA dan SMK masih tidak seimbang.

Siswa atau anak berkebutuhan khusus (ABK) atau inklusif, masih belum diterima di sejumlah sekolah setingkat SMA dan SMK, khususnya sekolah negeri yang ada di Kota Surabaya. Berbagai alasan menyertai penolakan tersebut, mulai dari pihak sekolah hanya menyediakan beberapa bangku saja hingga alasan tidak ada guru pendamping bagi ABK.

Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi Adiyat P. Dhofir mahasiswa program studi Teknik Arsitektur Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menulis tugas akhir sebuah rancang bangun SMK Inklusif Bidang pariwisata untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) di Surabaya.

"Karya atau rancang bangun ini berangkat dan bersumber dari keresahan pribadi. Kalau kemudian ternyata sinkron dengan kebutuhan atau apa yang dibutuhkan oleh Kota Surabaya, barangkali mungkin memang harus diwujudkan," terang Adiyat.

Pada rancang bangun 4 gedung SMK berlantai 3 tersebut, Adiyat memfokuskan rancangannya pada empat jenis anak berkebutuhan khusus (ABK): Autis Ringan, Tuna Rungu Wicara, Tuna Grahita Ringan dan Lamban Belajar.

Karena itu rancang bangun yang dibuat Adiyat, memperhatikan aspek-aspek yang memang dibutuhkan oleh siswa-siswa ABK. Aspek-aspek tersebut diantaranya: sirkulasi dari dan menuju kelas menjadi dipermudah. Juga penataan pada efisiensi bangunan.

"Di gedung bangunan SMK, ruang kelas dan tempat praktik terpisah jauh. Padahal, beberapa jenis ABK kondisi kognitifnya kurang bagus. Karena itu detil perpindahan dari ruang kelas ke ruang praktek perlu diperhatikan," kata Adiyat.

Jadi, lanjut Adiyat pada rancang bangun karyanya ini dibuat menyatu atau menjadi satu ruangan. Lantai 3 berisi laboratorium dan perpustakaan, di lantai 2 hanya ruang kelas, dan lantai 1 khusus untuk ruang praktik. "Zonasi berdasarkan aktifitas siswa," ujar Adiyat.

Untuk material bangunan, Adiyat juga memperhatikan detail material yang dipilih. "Material bangunan tidak bisa sembarang pilih dan wajib disesuaikan dengan tiap ABK. Lantai ruang kelas misalnya jika terlalu terang akan memicu Tantrum. Banyak yang harus diakomodir," tegas Adiyat.

Sementara itu, kendala yang dihadapi Adiyat dalam merancang bangun gedung SMK Inklusif, mulai dari perancangan bangunan yang aman dan juga nyaman bagi ABK, tetapi belum ada contoh atau rancangan awal yang serupa atau sama.

"Karena rancang bangun ini memang belum pernah ada. Rancang bangun ini memang untuk pertamakalinya dibuat. Karenanya ada kendala serta kesulitan terkait dengan referensi untuk rancang bangun gedung khusus untuk ABK," kata Adiyat.

Melalui rancang bangun karyanya, Adiyat berharap memberikan kesempatan bagi seluruh siswa-siswi ABK untuk mendapatkan kesetaraan dalam mendapat kesempatan belajar dan bersosialisasi dengan sebayanya.

"Anak-anak atau siswa ABK punya potensi yang sama, dan disayangkan jika potensi itu tidak tersalurkan. Karya ini membantu dari sisi arsitektural, dan berharap pemerintah Kota Surabaya punya solusi bagi pendidikan inklusif agar semakin merata," pungkas Adiyat, Jumat (21/2/2020).(tok/ipg)

SS TODAY LAINNYA

top