suarasurabaya.net

Siapa Calon Pengganti SBY Pimpin Demokrat, AHY Kah?
Laporan Muchlis Fadjarudin | Sabtu, 22 Februari 2020 | 15:36 WIB

suarasurabaya.net| Ahmad Khoirul Umam Dosen Ilmu Politik dan International Studies, Universitas Paramadina menjelaskan, setelah Susilo Bambang Yudhoyono Ketua Umum DPP Partai Demokrat. (PD) yang juga Presiden RI ke-6 mengisyaratkan untuk "mandito ratu", sejumlah aspirasi kader PD yang mendukung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terus menguat.

Kata Umam, pada Pemilu 2004, PD mengawali debutnya dengan tujuh persen suara nasional. Kemudian, Pemilu 2009 menjadi puncak kejayaan PD dengan mendapatkan suara 20.85 persen, sebagai hasil efek ekor jas (coat-tail effect) dari tingginya kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan SBY periode pertama (2004-2009). Tapi setelah SBY purna tugas, Partai Demokrat dihadapkan pada tantangan tidak adanya figur utama dalam konstalasi Pilpres 2014 dan 2019. Sehingga perolehan suaranya melorot hingga 10 persen pada Pemilu 2014 dan 7,7 persen pada Pemilu 2019.

"Dukungan terhadap Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menguat ini dapat dicermati sebagai pilihan rasional PD untuk saat ini," ujar Umam di. Jakarta, Sabtu (22/2/2020).

Hal itu, kata Umam, kemungkinan dipengaruhi oleh faktor, Pertama, AHY selalu telah menjadi simbol representasi tokoh PD di hampir semua survei kepemimpinan nasional, baik dengan skema pertanyaan terbuka maupun tertutup dalam instrumen survei yang digunakan.

Realitas politik itu bisa dikapitalisasi oleh PD, sebab hadirnya figur sentral dalam struktur organisasi partai politik akan memudahkan partainya untuk mengkonsolidasikan kekuatan politik, menghindari potensi faksionalisme, dan konflik internal akibat kompetisi kepemimpinan internal.

"Tanpa figur sentral, partai-partai di Indonesia cenderung mudah terperosok pada friksi dan konflik internal. Pengalaman Kongres Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) beberapa waktu lalu adalah fakta politik tidak terbantahkan," jelas Umam.

Kedua, kata dia, safari politik yang dilakukan AHY ke 34 provinsi dalam dua bulan terakhir daerah, tampaknya mampu mengkonsolidasikan barisan internal partai.

"Tampaknya mulai ada pertemuan visi, misi dan cara pandang antara AHY dan kader di daerah tentang masa depan PD," ujar Umam.

Ketiga, menurut Umam, kemunculan AHY sebagai Ketum PD berpotensi meningkatkan political engagement dengan kelompok pemilih milenial yang diprediksi akan terus bertambah jumlahnya seiring menguatnya fenomena bonus demografi hingga tahun 2030.

Dia menjelaskan, di tengah partai-partai politik lain masih mempertahankan status quo dengan mempertahankan stok pemimpin-pemimpin lama yang rata-rata sudah berumur di atas 60 atau bahkan 70 tahun, seperti Megawati di PDIP, Surya Paloh di Partai Nasdem, Prabowo Subianto di Partai Gerindra, dan lainnya. Terlebih lagi, merujuk pada hasil temuan Litbang Kompas (Mei 2019) yang menyatakan bahwa dari angka 7,7 persen perolehan PD pada Pemilu 2019 lalu, sekitar 50 persennya didominasi oleh pemilih muda milenial. Artinya, jika memang PD ingin mengembalikan efektivitas mesin politiknya, PD harus berani berinovasi dengan memunculkan 'kepemimpinan baru' yang lebih fresh, gesit, adaptif dan mampu menjawab tantangan transformasi Partai Demokrat.

Tetapi, kata Umam, langkah inovatif itu kembali kepada keputusan pimpinan DPC, DPD dan juga restu dari SBY Ketum DPP PD. Restu SBY selaku patron utama dalam struktur kekuatan PD akan tetap memiliki bobot politik yang sangat besar dalam kelancaran proses regenerasi kepemimpinan PD ke depan.(faz/iss)‎

SS TODAY LAINNYA

top