suarasurabaya.net

Bupati Sidoarjo akan Menutup Industri Tahu yang Masih Pakai Sampah Plastik Impor
Laporan Denza Perdana | Selasa, 26 November 2019 | 17:51 WIB

suarasurabaya.net| Saiful Illah Bupati Sidoarjo akhirnya tegas menyatakan sikap melarang penggunaan limbah plastik impor sebagai bahan bakar Industri Tahu di Dusun Klagen, Tropodo, Krian. Dia juga siapkan sanksi tegas.

"Saya melarang (pengusaha tahu) menggunakan sampah plastik," katanya setelah turut Deklarasi IKM Tahu Tropodo, Krian, untuk melakukan "Gerakan Stop Penggunaan Bahan Bakar Sampah Plastik."

Deklarasi IKM Tahu Tropodo, Krian, itu berlangsung di halaman Musala Dusun Areng-Areng, Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo, Selasa (26/11/2019). Ada 20 pengusaha tahu yang turut dalam deklarasi itu.

Bupati Sidoarjo yang akrab disapa Abah Ipul itu mengatakan, kalau setelah deklarasi ini masih ada pengusaha tahu di Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo yang ketahuan memakai sampah plastik, dia beri sanksi.

"Ya, kita tutup pabriknya! Kok susah-susah. Sanksinya kita tutup," tegasnya.


Tumpukan sampah plastik impor yang digunakan untuk bahan bakar industri tahu. Foto: Istimewa

Sebagai pengganti bahan bakar sampah plastik, dalam waktu dekat ini Saiful Illah akan mulai mendatangkan pelet kayu (wood pellets) seperti yang pernah dia sampaikan beberapa waktu lalu.

Tidak hanya itu, Pemkab Sidoarjo juga menyiapkan skema pengadaan gas kota untuk menggantikan pemanfaatan limbah plastik impor dari sejumlah pabrik kertas di Jatim.

"Nanti bahan bakunya saya bawa ke sini semuanya. Kita mulai produk dengan wood pellets atau dengan gas. Ya, itu sudah. Kami larang (pengusaha). Tidak boleh pakai plastik," katanya.

Pada awal penerapannya, Abah Ipul menjanjikan akan ada subsidi pelet kayu bagi pengusaha tahu di Tropodo. Dia akan bicarakan itu dengan Khofifah Gubernur Jawa Timur.

"Nanti awal-awal kami bantu. Ini, di sini ada Pak Drajat, Kepala Dinasnya (Disperindag Jatim). Nanti bisa kami bicarakan bersama. Pasti kita bantu (subsidi untuk pengusaha tahu," ujarnya.

Dia akui, praktik penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar pembuatan tahu ini berlangsung sejak 20 tahun silam. Dia pun baru tahu setelah adanya berita telur ayam kampung mengandung dioksin.

"Saya enggak mau ternak yang lain juga lebih banyak lagi makan ampasnya tahu. Karena itu, sekarang kita mulailah membenahi masyarakat supaya hidup sehat. Kita pakai bahan-bahan yang sehat dan ramah lingkungan," ujarnya.(den/iss/ipg)

SS TODAY LAINNYA

top