suarasurabaya.net

Unej Pasang Detektor Puting Beliung dan Tanah Longsor
Laporan Agustina Suminar | Jumat, 14 Desember 2018 | 20:30 WIB

Bangunan yang sempat menutup jalan bundaran Apollo jalur Gempol Pandaan akibat puting beliung, Kamis (29/11/2018) sore. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net| Universitas Jember (Unej) memasang alat detektor angin puting beliung dan tanah longsor untuk mengantisipasi datangnya bencana alam selama musim hujan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Alat ini merupakan karya Januar Fery Irawan, Satrio Budi Utomo, FX. Kristianta dan Ike Fibriani, empat peneliti dari Fakultas Teknik Unej.

"Detektor angin puting beliung dipasang di Desa Karangrejo, Kecamatan Sumbersari sebanyak dua buah, dan satu alat di Desa Pakusari, Kecamatan Pakusari, sedangkan untuk detektor tanah longsor dipasang di Desa Suci, Kecamatan Panti, dan di Desa Pace, Kecamatan Silo," kata Januar Fery Irawan ketua tim pembuat alat detektor di Kabupaten Jember, Jumat (14/12/2018).

Menurut dia, detektor angin puting beliung bekerja dengan cara mengukur kecepatan angin yang datang. Sehingga pihaknya menempatkan anemometer analog yang fungsinya mengukur kecepatan angin. Jika kecepatan angin mencapai 35 kilometer per jam, maka otomatis sensor akan mendeteksi sebagai gejala angin puting beliung dan sirine akan berbunyi.

"Sirine akan berbunyi selama kurang lebih 10 hingga 15 menit guna memperingatkan warga sekitar, sehingga memiliki waktu untuk menyelamatkan diri," katanya dilansir Antara.

Untuk diketahui, kata dia, proses terbentuknya angin puting beliung didahului oleh angin yang kecepatannya bertambah secara bertahap.

Ia mengatakan, penempatan detektor angin puting beliung di beberapa lokasi ini berdasarkan riwayat terjadinya bencana sebelumnya.

Padahal, kata dia, di sekitarnya terdapat sekolah dan merupakan jalan yang menjadi urat nadi transportasi di wilayah ini. Sehingga tim peneliti Unej berinisiatif menempatkan dua detektor di pinggir jalan dan di sekitar perumahan warga.

"Harapannya, jika terjadi angin puting beliung maka warga sekitar bisa bersiap-siap agar tak ada korban jiwa, apalagi suara sirine bisa menjangkau wilayah seluas 1 kilometer," kata dosen yang menyelesaikan magisternya di Hokkaido University, Jepang itu.(ant/tin)
top