suarasurabaya.net

Chris Hughes Pendiri Facebook Kritisi Kebijakan Zuckerberg
Laporan Agustina Suminar | Jumat, 10 Mei 2019 | 15:20 WIB

Chris Hughes salah seorang pendiri Facebook. Foto: Reuters
suarasurabaya.net| Chris Hughes salah seorang pendiri Facebook, dalam tulisannya berjudul "It's Time to Break Up Facebook" yang dimuat di The New York Times, mengungkapkan kekecewaannya terhadap Mark Zuckerberg. Ia meminta perusahaan tersebut dipecah demi menciptakan iklim kompetisi yang sehat.

Chris Hughes membantu Mark Zuckerberg meluncurkan Facebook saat sang CEO masih tinggal di asrama Harvard University. Kritik Hughes ini didasari argumen ekonomi dan bisnis. Facebook dianggap sebagai pelaku monopoli sehingga membatasi kompetisi dan mengganggu inovasi.

Dikutip dari The Verge yang dilansir Antara, Hughes menilai warganet tidak memiliki pilihan beralih ke media sosial lain karena tidak ada pesaing yang sepadan dengan Facebook.

Berdasarkan pengamatan Hughes, sejak 2011 tidak ada media sosial baru yang muncul sehingga 84 persen iklan dari media sosial masuk ke Facebook.

Chris Hughes meminta Federal Trade Commission mengembalikan akuisisi Facebook terhadap WhatsApp dan Instagram agar pasar media sosial dan perpesanan menjadi kompetitif.

Untuk mendukung argumen bahwa hal tersebut mungkin, dia mencontohkan FTC memecah AT&T pada 1980an dan Whole Food menjual Wild Oats pada 2009 lalu.

Masalah Facebook, menurut Hughes, tidak hanya dilihat dari segi ekonomi. Algoritme Kabar Berita (News Feed) dia sebut mendikte konten yang dilihat warganet setiap hari. Kebijakan Facebook terhadap konten menilai apa yang tergolong ujaran kebencian dan proses penilaian tersebut tidak dilakukan secara demokratis.

Menurutnya, tidak ada yang mengecek kekuasaan yang dimiliki Zuckerberg, selaku pemegang saham mayoritas di Facebook. Serta tidak ada lembaga pemerintah yang secara khusus ditugaskan untuk mengawasi perusahaan seperti Facebook.

"Pengaruh Mark mengejutkan, jauh dari siapa pun yang ada di sektor swasta maupun pemerintah. Dia mengontrol tiga platform komunikasi utama, Facebook, WhatsApp dan Instagram, yang memiliki miliaran pengguna setiap hari," kata dia.

Menurut Hughes, hanya Zuckerberg yang dapat memutuskan algoritme yang akan menampilkan konten yang dilihat warganet di News Feed. Zuckerberg juga yang membuat aturan bagaimana mengenali kekerasan dan ujaran kebencian.

"Mark orang yang baik. Tapi, saya marah, fokusnya terhadap pertumbuhan membuatnya mengorbankan keamanan dan kesopanan demi klik," kata dia.

Hughes juga mengharapkan pemerintah Amerika Serikat membuat lembaga yang khusus mengawasi perusahaan teknologi seperti Facebook. Lembaga tersebut, menurut Hughes, perlu melindungi kerahasiaan data pengguna, membuat panduan bagaimana Facebook beroperasi, mirip dengan regulasi Uni Eropa dengan GDPR.(ant/tin/ipg)
top