suarasurabaya.net

Engineer Adalah Problem Solver, Bukan Problem Maker
Laporan J. Totok Sumarno | Senin, 01 Juli 2019 | 16:51 WIB

Seminar internasional digelar Universitas Narotama Surabaya dengan menghadirkan sejumlah pemateri internasional dari Malaysia. Foto: Humas Unnar
suarasurabaya.net| Program Studi Teknik Sipil Universitas Narotama, gelar seminar internasional bertajuk: Sustainable Construction and Infrastructure Development, Senin (1/7/2019) menghadirkan sejumlah pembicara, dan mencuat bahwa, Engineer adalah problem solver.

Pembicara yang hadir pada seminar internasional yang digelar Universitas Narotama untuk kesekian kalinya ini menghadirkan pemateri dari Malaysia, yaitu Prof. Dr. Mohd Idrus Bin Mohd Masirim dan Prof. Madya Ts. Dr. Mohd Haziman Bin Wan Ibrahim dari UTHM, serta Prof. Madya Dr. Mohd Fadzil Bin Arshad dari UITM.

Pada paparannya, Prof. Madya Dr. Mohd Fadzil Bin Arshad menjelaskan bagaimana mempersiapkan diri menjadi engineer dalam Industrial Revolution (IR) 5.0 yang menekankan pada kemampuan serta pemahaman pada Artificial Intelligence (AI).

"Dalam revolusi industri 5.0 ini manusia atau dalam hal ini engineer ditantang untuk bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh mesin. Karena semua pekerjaan akan melibatkan mesin bahkan robot dengan AI," terang Prof Fadzil.

Dengan demikian, lanjut Fadzil, engineer ditantang sebagai problem solver yang lebih efisien dari sebelumnya. Misalnya yang paling mudah adalah mengubah sampah atau limbah menjadi material yang berguna untuk pembangunan.

"Limbah menjadi material bangunan ini masih bisa terus dieksplorasi. Misalnya saja sungai dengan banyak sampah plastik atau bahan gelas, bisa dikurangi dengan mengubah sampah itu menjadi pengganti pasir," tegas Fadzil.

Yang juga penting, lanjut Fadzil adalah engineer teknik sipil masih harus terus berinovasi membuat konstruksi yang ringan namun kuat. "Ini yang masih sulit karena fitrahnya kuat itu biasanya pasti berat. Nah sekarang bagaimana membuat yang kuat namun ringan," ujar Fadzil.

Pada seminar berkelas internasional kali ini, Fadzil bersama para pemateri lain lebih banyak menekankan jangan sampai engineer malah jadi problem maker dan menambah limbah atau malah posisinya bisa tergantikan oleh mesin.

"Ada banyak masalah yang bisa diselesaikan, dari yang kecil hingga besar. Jadi jangan sampai engineer justru malah menambah masalah. Engineer adalah problem solver, memberikan solusi persoalan-persoalan menyangkut Industrial Revolution 5.0 mendatang," pungkas Fadzil, Senin (1/7/2019).(tok/iss)
top