suarasurabaya.net

Twitter Uji Coba Fitur Baru untuk Hindari Perang Cuitan
Laporan Dwi Yuli Handayani | Kamis, 09 Januari 2020 | 10:46 WIB

Ilustrasi
suarasurabaya.net| Twitter dilaporkan sedang menguji coba fitur baru yang memungkinkan pengguna membatasi pengguna lain yang dapat menanggapi cuitan mereka.

Dikutip dari laman Phone Arena, Kamis (9/1/2020), langkah ini diharap dapat mengurangi tingkat permusuhan yang dikenal ada di platform Twitter.

Pengguna yang dipilih untuk menguji fitur baru ini akan dapat memilih satu dari empat opsi ketika memutuskan siapa saja yang dapat membalas cuitan mereka, seperti dilansir Antara.

Keempat opsi tersebut antara lain semua orang, hanya mereka yang mengikuti penulis cuitan, hanya orang yang disebutkan dalam cuitan, dan tidak ada balasan.

Kayvon Beykpour Eksekutif Twitter, mengumumkan fitur baru tersebut dalam pameran teknologi CES 2020 di Las Vegas.

"Motivasi utama adalah kontrol. Kami ingin penulis mendapatkan lebih banyak kontrol, dan kami berpikir bahwa ada banyak analog tentang bagaimana orang berkomunikasi dalam kehidupan," ujar Beykpour.

"Saat ini, percakapan publik di Twitter terjadi saat Anda mengunggah sesuatu yang dapat dilihat dan dapat dijawab oleh semua orang di dunia, atau Anda dapat melakukan percakapan yang sangat pribadi dalam DM. Jadi, ada spektrum percakapan yang belum kami lihat ada di Twitter," lanjut dia.

Kembali pada bulan November, Twitter mulai memberi pilihan kepada pengguna untuk menyembunyikan balasan tertentu pada cuitan yang mereka tulis sebagai upaya untuk mencegah adanya debat sengit.

Sekarang, Twitter memperketatnya, dengan memberi kesempatan kepada pengguna untuk memblokir pengguna lain agar tidak membalas cuitan mereka.

Fitur baru tersebut akan dimulai sebagai uji coba yang hanya akan diterima oleh pengguna tertentu, dan jika diterima dengan baik, diharapkan fitur tersebut dapat dihadirkan kepada semua pengguna Twitter.

Jack Dorsey salah seorang pendiri dan CEO Twitter membuat komentar tentang bagaimana meningkatkan "kesehatan" Twitter menjadi prioritas utamanya. Namun Dorsey justru diserang karena tindakan disiplinnya yang dianggap tidak merata.

RawStory melaporkan bahwa sejumlah besar pengguna Twitter mempertanyakan soal mengapa persyaratan layanan Twitter tidak berlaku untuk Presiden Donald Trump yang baru-baru ini mengancam akan melakukan perang terhadap Iran.

Sementara data terbaru belum dirilis, Twitter memiliki sekitar 330 juta pengguna aktif bulanan di akhir kuartal pertama tahun lalu. Angka itu turun dari 336 juta pengguna aktif bulanan yang dihitung selama kuartal pertama 2018. (ant/dwi/ipg)
top