suarasurabaya.net

Kurangi Jumlah Sampah, Diolah Jadi Energi Alternatif
Laporan J. Totok Sumarno | Senin, 13 Januari 2020 | 19:02 WIB

Dr Ridho Hantoro ST MT (kanan) bersama plant manager lahan PLTSa Putri Cempo saat meriset pengolahan sampah menjadi energi listrik. Foto: Humas ITS
suarasurabaya.net| Dr Ridho Hantoro ST MT., Dosen ITS, lakukan penelitian hydrothermal carbonization yang punya kelebihan mengurangi massa sampah secara signifikan pada proses pengolahan sampah menjadi energi alternatif penghasil listrik.

Penelitian yang dilakukan tersebut berangkat dari permasalahan penumpukan sampah di Indonesia yang semakin menjadi, terutama di kota-kota besar.

Pemerintah daerah pun sudah ada yang memanfaatkan sampah menjadi listrik, namun dari beberapa jenis metode masih memberikan permasalahan pengurangan massa yang tidak signifikan.

Dosen Departemen Teknik Fisika ITS ini terinspirasi dari konversi nilai energi dan banyaknya sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Satu diantara TPA yang mengaplikasikan metode ini adalah TPA Putri Cempo di bawah Pemerintah Kota Surakarta.

"Hasil proses hydrothermal carbonization akan digunakan sebagai satu diantara bahan baku gasifikasi dan gas engine untuk memproduksi listrik," terang Ridho Hantoro.

Melalui penelitiannya yang berjudul Studi Pembangkitan Energi melalui Pengolahan Sampah Kota (MSW) dengan Proses Hydrothermal Carbonization (HTC) dan Gasifikasi, Ridho fokus menggunakan metode HTC dan Gasifikasi.

"Metode ini keunggulannya mampu meningkatkan nilai kalori material sampah dalam bentuk padatan, sekaligus mengurangi massa sampah secara signifikan pada prosesnya," papar dosen yang menggeluti bidang efisiensi energi ini.

Pada prosesnya, lulusan S3 Teknik Kelautan ITS ini mengungkapkan, bahwa limbah dipisahkan dari logam dan material toksik yang ada, lalu dimasukkan ke dalam reaktor HTC.

Pada kondisi saturasi biasanya 23 bar harus tetap dikontrol, hal itu juga tergantung kondisi dan komposisi karakteristik sampah. "Bisa sampah plastik atau sampah organik seperti sayur-sayuran, limbah rumah tangga, plastik, kertas, dan lainnya," kata Ridho lagi.

Selama kurang lebih empat sampai 10 jam, lanjut Ridho maka akan terbentuk bubur karbon (char). Setelah itu bubur tadi dihilangkan kadar airnya, lalu dikeringkan dan menjadi briket. Briket yang sudah dikeringkan dimasukkan ke dalam gasifier, dan didapatkan metana murni yang di treatment.

Selanjutnya, dimasukkan ke dalam gas engine atau motor bakar yang akan menghasilkan listrik seperti halnya genset. "Apabila dalam pemanfaatan limbah menjadi biogas akan dihasilkan gas organik, tetapi hasil yang dikeluarkan dari gasifier akan berupa gas sintetik (syngas)," ujar Ridho.

Menurut dosen yang juga menggeluti bidang energi terbarukan tersebut, penelitian yang sudah dilakukan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam menyelesaikan permasalahan sampah kota.

"Selanjutnya kami akan meneruskan penelitian ini dengan membuat prototipenya, lalu mencoba mengaplikasikannya," pungkas Ridho, Senin (13/1/2020).(tok/ipg)
top