suarasurabaya.net

Mahasiswa Teknik Kimia ITS Rancang Fermentor Donat Bagi UMKM
Laporan J. Totok Sumarno | Selasa, 14 Januari 2020 | 18:37 WIB

Fermentor Donat diserahkan pada satu diantara pelaku usaha donat. Foto: Humas ITS
suarasurabaya.net| Bantu optimalisasikan proses produksi donat, tim mahasiswa Departemen Teknik Kimia ITS, rancang Fermentor Donat yang ekonomis dan praktis, serta ditujukan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di industri makanan Donat.

Proses fermentasi ragi roti yang baik dapat menghasilkan adonan donat yang bertekstur empuk dan disukai penikmatnya. Fermentor Donat besutan Kelompok I Kuliah Lapangan Berbasis Pengabdian Masyarakat ini pun lahir dari permasalahan yang ada dalam UMKM Wid Donat Roti Kentang di daerah Kejawan Putih Tambak, Surabaya.

Dalam proses produksi donatnya, mereka masih menggunakan proses konvensional sehingga hasil pengembangan adonan masih terasa kurang maksimal.

Proses fermentasi melibatkan mikroba Saccharomyces cerevicae yang sering dikenal sebagai ragi roti. Ragi roti tersebut dapat menghasilkan enzim yang merombak gula menjadi Alkohol dan gas karbon dioksida (CO2).

Gas yang terbentuk dalam proses fermentasi inilah yang mengakibatkan adonan donat dapat mengembang dengan baik sesuai harapan pembuatnya.

Pandhu Dirga Pratama Ketua Kelompok I, menjelaskan bahwa proses fermentasi yang baik adalah proses yang terisolasi dari oksigen dan mencapai titik optimal sesuai dengan mikroba yang dipakai dalam proses fermentasi.

"Kami ingin mengaplikasikan teori mata kuliah mikrobiologi yang kami dapat di departemen untuk menyelesaikan masalah di UMKM yang kami datangi," terangt Pandhu Dirga Pratama.

Untuk dapat membuat kondisi optimal bagi ragi yang digunakan dalam proses pengembangan adonan donat, Pandhu dan kelompoknya mendesain fermentor yang berbentuk seperti lemari. Fungsi utama dari fermentor ini ialah sebagai pengembang adonan. "Suhu dan kelembabannya terkontrol sesuai ragi yang dipakai," kata Pandhu.

Dengan bimbingan dosen Prof Dr Arief Widjaja M. Eng., dan Dr Eng. Raden Darmawan ST MT, Fermentor Donat ini memiliki kapasitas yang cukup besar. Desainnya terdiri dari lima loyang, dengan kapasitas 20 adonan donat tiap loyangnya.

Pada fermentor tersebut, lanjut Pandhu ada dua lampu penghangat berkapasitas 40 watt yang disematkan di atas dan di bawah proofer yang bekerja untuk menaikkan suhu. Fermentor ini juga dilengkapi dengan alarm yang berbunyi ketika adonan mengembang sesuai keinginan.

Alat inovatif itu bekerja dengan memanaskan adonan donat pada suhu 35 hingga 37 derajat Celsius.

Dalam karyanya tersebut, disematkan pula thermostat yang menjaga suhu dalam fermentor agar tidak melebihi 37 derajat celsius. "Apabila suhu melebihi 37 derajat, maka sambungan listrik pada lampu akan terputus secara otomatis dan lampu akan mati," tambah Pandhu.

Untuk mengoperasikan fermentor, pengguna hanya perlu menyalakan saklar dan lampu yang terdapat di dalam fermentor. Setelahnya, pengguna perlu memasukkan adonan donat ke dalam loyang bertingkat pada fermentor, lalu menutup kaca fermentor.

"Kalau sudah, tinggal menunggu hingga suhu mencapai kondisi optimal seperti yang diinginkan," kata Pandhu.

Dalam waktu satu bulan untuk proses pembuatan alat serta pendampingan UMKM, Pandhu dan kelompok tentunya juga menghadapi beberapa tantangan.

Bagi mereka, kesulitan pertama yang dirasakan ialah membuat jadwal untuk mahasiswa yang piket dalam UMKM, mengingat jadwal tiap individu berbeda-beda.

Kemudian untuk mendapatkan perangkat penyusun alat yang berkualitas di Surabaya, diperlukan waktu dan proses yang ekstra. "Untuk memakai alat, diperlukan percobaan yang banyak agar hasilnya sesuai ekspektasi," ujar Pandhu.

Pandhu sendiri mengakui bahwa alatnya masih perlu banyak pengembangan. Banyak hal-hal terkait yang mempengaruhi berjalannya proses fermentasi yang perlu diuji lagi. "Kami akan uji terus sekaligus cari variabel lain, sehingga alatnya nanti dapat bekerja lebih maksimal," pungkas Pandhu, Selasa (14/1/2020).(tok/ipg)
top