suarasurabaya.net

Angkat Khalayak Radio Suara Surabaya, Disertasi Dosen UK Petra Raih Predikat Sangat Memuaskan
Laporan Agustina Suminar | Jumat, 04 Oktober 2019 | 17:47 WIB

Fanny Lesmana Dosen Komunikasi UK Petra Surabaya usai melakukan Ujian Doktor Terbuka di Universitas Airlangga, Jumat (4/10/2019). Foto: Dokumentasi UK Petra
suarasurabaya.net| Dr. Fanny Lesmana, S.Sos., M.Med.Kom., Dosen Komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, meraih gelar Doktor Ilmu Sosial dengan mengangkat Khalayak Radio Suara Surabaya sebagai bahasan disertasinya.

Karya penelitian berjudul "Khalayak Radio dan Ruang Publik Pada Era Konvergensi Media (Studi Kasus Terhadap Khalayak Radio Suara Surabaya)" itu, berhasil meraih predikat sangat memuaskan, dalam Ujian Doktor Terbuka di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jumat (4/10/2019).

Fanny mengatakan, alasannya mengusung tema radio, bermula dari adanya prediksi bahwa pendengar radio suatu saat akan punah tergerus arus teknologi internet. Untuk itu, ia mengangkat Radio Suara Surabaya (SS), sebuah media lokal Surabaya, yang melakukan konvergensi media yang hasilnya bersimpangan dengan prediksi tersebut.

"Karena SS merupakan media lokal yang mengusung konvergensi media. Nah, media massa lokal banyak yang mengusung konvergensi media, tapi SS ini menarik karena dia formatnya radio. Kan ada prediksi yang mengatakan, pendengar radio suatu saat akan punah karena tersaingi internet, sedangkan Radio Suara Surabaya melakukan konvergensi itu," kata Fanny kepada Radio Suara Surabaya.


Fanny Lesmana saat Ujian Doktor Terbuka S3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya. Foto: Dokumentasi UK Petra

Selain itu, menurutnya Radio Suara Surabaya menarik karena mengusung format jurnalistik, hal berbeda dengan kanal radio yang lain. Bahkan, ia tidak menyebut subyek penelitiannya sebagai pendengar, namun dengan sebutan khalayak. Karena menurutnya, dengan adanya konvergensi media yang dilakukan, pendengar radio SS tidak hanya menjadi pendengar murni. Ini dikarenakan mereka juga mengirimkan informasi dari berbagai platform, mulai dari WhatsApp hingga media sosial.

Radio Suara Surabaya, lanjut Fanny, memiliki ciri khas yang berbeda dengan radio lain. Meskipun beberapa pendengar radio lain ikut melaporkan informasi lalu lintas. Perbedaan itu salah satunya adalah bagaimana kru radio SS, yakni gatekeeper, ikut memberikan pengajaran tentang informasi yang akurat.

"Yang menarik Gateeeper-nya ikut menuntun pendengar untuk memberikan informasi yang akurat. Misal plat kendaraan tidak terlihat, korban tidak kelihatan, itu harus di follow up lagi," kata Fanny.

"Memang saya sempat menyimak beberapa stasiun radio juga melaporkan situasi lalu lintas, tapi kok rasanya tidak sama seperti Suara Surabaya," tambahnya.

Apalagi berdasarkan hasil penelitiannya, Radio Suara Surabaya menjadi media yang memunculkan arus demokrasi mulai dari partisipasi masyarakatnya. Karena di radio, pendengar tidak hanya menerima informasi yang disampaikan, namun juga ikut melaporkan suatu peristiwa. Bahkan, pendengar juga dapat menyalurkan pendapatnya terhadap suatu isu/tema yang disiarkan, yang kemudian dapat direspon oleh pendengar yang lain.

Untuk itu, Radio Suara Surabaya menurut Fanny, menjadi ruang publik tersendiri dimana proses demokrasi banyak diperankan oleh khalayak.

Dalam disertasinya, ia membagi tipe informannya menjadi 4 tipe. Pertama adalah tipe khalayak partisipatif, yang mana pendengar memberikan pesan atau informasi ke publik. Kedua adalah khalayak pasif, yang mana pendengar hanya mendengarkan apa yang disampaikan di radio. Ketiga adalah khalayak pembelajar, yang mana pendengar mendengarkan isu yang disampaikan, lalu menjadi sebuah pembelajaran tersendiri bagi mereka. Dan yang terakhir adalah tipe fanatik, yakni pendengar yang merasa tidak bisa lepas dari Suara Surabaya.

Fanny berharap, karya disertasinya ini dapat menjadikan pembelajaran bagi masyarakat, untuk dapat berdemokrasi dengan baik. Salah satunya bermula dari menyampaikan informasi, dan berpendapat di ruang publik dengan bijak.

"Mereka menjadikan SS sebagai ruang publik untuk saling silang pendapat dan menjadi proses pembelajaran menarik. Di sinilah masyarakat kita belajar untuk berpikir dan berargumentasi secara logic, harapan penelitian ini ke sana," ujar pengajar jurnalistik di UK Petra Surabaya tersebut.(tin/ipg)
top