suarasurabaya.net

Didukung Unesco, ITS Surabaya Terapkan Sustainable Development
Laporan J. Totok Sumarno | Kamis, 31 Maret 2016 | 21:37 WIB

Ilustrasi
suarasurabaya.net| PBB melalui Unesco gandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembangkan pendidikan pembangunan berkelanjutan, untuk sekolah maupun masyarakat melalui pengelolaan kampung dan sekolah yang berbasis pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Dr Agnes Tuti Rumiati, M.Sc, Juru bicara ITS sekaligus sebagai ketua peneliti pengembangan sekolah, Kamis (31/3/2016) mengatakan, digandengnya ITS dalam program Education for Sustainable Development (ESD) ini adalah bagian dari perjalanan panjang program yang telah dirintis ITS untuk kampung-kampung di Surabaya.

Sementara untuk program sekolah belajar dari sekolah Adiwiyata dan Green School Action Project (GSAP) yang diintegrasikan dengan pembelajaran tematik dengan berbagai inovasi terhadap pembudayaan karakter di lingkup sekolah.

"Penularan terhadap kampung dan sekolah yang ada di Surabaya dilakukan di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai pilot project. Hasilnya, cukup signifikan, sekolah dan masyarakat di Mataram khususnya yang menerima program itu telah menerima manfaat dan perubahan yang sangat berarti," kata Agnes Tuti Rumiati yang juga Sekretaris ITS.

Program ini, lanjut Agnes sudah berjalan dua tahun, dan kini memasuki tahun terakhir untuk melakukan evaluasi program.

"Hasilnya sangat-sangat bermanfaat, dan bahkan pihak UNESCO sudah mengundang beberapa negara seperti Malaysia, Fiji, dan negara-negara di kawasan Pasifik untuk menduplikasi program ini," kata Agnes.

Agnes Tuti menambahkan, di lingkup sekolah, dengan siklus penjaminan mutu pendidikan keberhasilan yang dapat terukur dan dirasakan secara nyata adalah berubahnya manajemen sekolah, cara keterampilan guru menerapkan pendekatan tematik berbasis pada materi pembangunan berkelanjutan, perubahan karakter peserta didik terutama tumbuhnya karakter saling menghargai sesama peserta didik serta kebiasaan peserta didik yang peduli terhadap lingkungan.

"Sebelum tersentuh program ESD, karakter siswa di sana terkenal keras, kurang menghargai sesama teman. Lewat sentuhan program mingguan saling tukar menukar kado, misalnya, kebiasaan peserta didik di sana kini sudah berubah, lebih bisa menghargai antar teman," ujar Agnes.

Sementara itu, Prof. Ir. Noor Endah Mochtar, M.Sc., Ph.D, Koordinator Nasional Education for Sustainable Development Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco (KNIU) mengatakan, program ini adalah bagian dari kontribusi dan peran serta Indonesia sebagai anggota Unesco untuk berbagi pengalaman dan upaya menyebarluaskan keberhasilan di bidang pendidikan dan kebudayaan.

"Kami memilih Kota Surabaya dan menggandeng ITS mengingat prestasi dan pengalaman kampus ini cukup berhasil dalam menata kampung dan memberdayakan masyarakatnya. Pengalaman di sekolah dan kampung Surabaya inilah yang kemudian diduplikasi kampung dan sekolah di Mataram, NTB," ujar Noor Endah Mochtar.

Ke depan, kata Noor Endah, jika Unesco memandang keberhasilan ini perlu diduplikasi dan ditularkan di beberapa negara, maka kami siap untuk melakukannya.(tok/rst)
top