suarasurabaya.net

Menembus Badai, Kesuksesan Menembus Rasisme dan Kebangsaan
Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 09 September 2016 | 17:57 WIB

Wu Da Ying ahli Biokimia yang karyanya diakui dunia (batik kuning). Foto: Totok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Penulis buku berjudul Menembus Badai ini, ternyata bukan orang biasa. Keberhasilannya saat ini menjadi satu di antara ilmuwan biokimia yang sangat dihormati di dunia, satu di antaranya karena keyakinannya pada dunia pendidikan yang dapat menyelamatkannya.

Lahir di Lumajang, Jawa Timur, Wu Da Ying melintasi pengembaraan kehidupan yang cukup berliku dan penuh tantangan. Sejarah negeri ini dilewatinya dengan berbagai upaya agar tetap bisa hidup dan melanjutkan kehidupannya.

Tragedi berdarah tahun 1965 yang terjaid di Indonesia ketika itu, dianggapnya sebuah gempa bumi yang akhirnya memang memporakporandakan kehidupannya. Kehidupan keluarganya, bahkan kehidupan seluruh masyarakat keturunan Tionghoa.

"Semua harta keluarga dan usaha keluarga disita. Itu terjadi diera Jenderal Sumitro. Semua hilang, habis tanpa bersisa. Tahun 1965 itu menjadi tantangan tersendiri untuk bangkit, membuang cara pandang lama dan harus terus bergerak maju," ujar Wu Da Ying.

Sepanjang hidupnya, Wu Da Ying terus berusaha mengatasi berbagai macam tantangan dan hambatan dalam pengembaraan panjang mengatasi rasisme. Demikian juga saat tinggal di luar negeri. Tantangan dan hambatan terus berdatangan.

"Di sepanjang hidupku, selain kerabat, aku bertemu banyak teman baru dan orang-orang yang luar biasa. Aku bertemu mereka ketika berjuang sebagai pelajar dan seorang imigran baru yang berupaya mengukuhkan pijakan. Aku tidak membawa ketrampilan atau kekayaan apapun, hanya keyakinan bahwa pendidikan adalah penyelamatku," ungkap Wu Da Ying.

Wu Da Ying, Ph.D., yang juga dikenal dengan nama That Tjien Ngo, Ph.D., ini, awalnya menempuh pendidikan di sekolah Tionghoa-Indonesia di Jawa Timur.

Setelah tinggal sebentar di Jakarta, Wu hijrah ke Kanada memasuki Universitas Saskatchewan dan mendapat gelar B.Sc. (kehormatan) pada tahun 1970 dan menyelesaikan Ph.D., di bidang Biokimia pada tahun 1973. Lalu sederet prestasi dan keberhasilan diraih Wu Da Ying dibidang Biokimia.

Setelah melalui berbagai pembuktian, satu persatu temuannya di bidang biokimia mendapatkan pengakuan, dipatenkan, bahkan dibeli hak produksi massalnya oleh perusahaan alat kesehatan ternama dunia.

Pada bedah bukunya di kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Wu Da Ying menyampaikan keprihatinannya tentang generasi muda Indonesia. Banyak anak muda Indonesia saat ini yang menuntut orang tuanya untuk memberikan dukungan penuh dalam segala hal.

"Ini yang nantinya membedakan etos kerja mereka. Anak-anak muda di luar negeri memperjuangkan sendiri apa yang mereka yakini. Disini mungkin akan lebih sulit dilaksanakan, atau bahkan dianggap aneh, namun budaya kemandirian seperti itu adalah satu bentuk kebiasaan yang patut dicontoh," kata Wu Da Ying.

Pada Jumat (9/9/2016), Wu Da Ying hadir menjadi pembicara Dies Natalis ke-56 Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Bersama Peilin Ngo, J.D., buku berjudul Menembus Badai ditulis Wu Da Ying.(tok/ipg)
top