suarasurabaya.net

Mustikarasa; Resep Masakan Indonesia Warisan Soekarno Bukan Buku Resep
Laporan J. Totok Sumarno | Kamis, 03 November 2016 | 18:20 WIB

JJ Rizal sejarahwan membedah Mustikarasa; Resep Masakan Indonesia Warisan Soekarno. Foto: Totok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Buku yang pernah terbit di era pemerintahan Soekarno dulu, Mustikarasa; Resep Masakan Indonesia Warisan Soekarno, diterbitkan kembali dalam edisi baru tanpa mengubah isi buku tersebut. Ternyata bukan sekedar buku resep masakan asal Indonesia. Lebih dari itu.

"Buku ini lebih dari sekadar dokumentasi resep semata. Lebih dari itu, buku ini mengedepankan politik pangan, bercerita tentang pangan serta kebijakan pangan masa itu sekaligus alternatif pangan. Buku itu menyampaikan bahwa bahan pangan itu bukan cuma Beras," terang JJ Rizal sejarahwan.

Indonesia kaya akan ragam masakan dan makanan. Nenek moyang bansga Indonesia mewariskan resep masakan secara turun temurun.

Dan Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia merekam resep-resep masakan dan budaya dapur Nusantara dengan daerah asalnya itu kedalam buku Mustikarasa; Resep Masakan Indonesia Warisan Soekarno.

Lebih dari itu, sejatinya Soekarno adalah pecinta kuliner atau aneka masakan yang bisa dibilang kampungan. Kecintaannya pada masakan Indonesia dibuktikannya dengan aneka masakan yang hadir di istana kepresidenan ketika itu adalah masakan khas Indonesia.

"Bisa dibilang selera Soekarno untuk makanan atau masakan sangat kampungan. Beliau memilih makanan khas Indonesia, dibanding dengan masakan dari luar negeri. Dan melalui buku tersebut sejatinya Soekarno mengulas tentang ketahanan pangan, dan kedaulatan pangan sebagai sesuatu yang serius," tambah JJ Rizal.

JJ Rizal sejarahwan sekaligus juga budayawan Betawi yang lahir dan besar di Betawi, Kamis (3/11/2016) secara khusus diundang untuk membedah buku Mustikarasa; Resep Masakan Indonesia Warisan Soekarno yang digelar mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual UK Petra Surabaya.

Pembicara lain yang dihadirkan untuk mengulas buku tersebut adalah Antonio Carlos dari Surabaya yang belakangan kerap menjadi pemateri untuk urusan kuliner tradisional dan khas disejumlah pertemuan dan diskusi.

Carlos bercerita tentan gsatu diantara masakan yang dikenal hampir seluruh masyarakat Indonesia, tetapi dengan nama serta penampilan yang berbeda-beda. Sayur Lodeh.

"Ibu saya memasak Sayur Lodeh yang berbeda dengan Bude saya. Padahal keduanya adalah saudara sedarah dan dalam asuhan yang sama. Tetapi saat memasak selalu berbeda. Ini satu diantara bukti keberagaman dan kekayaan masakan khas Indonesia," kata Carlos.

Oleh karena itu, lanjut Carlos masakan atau kuliner tradisional Indonesia akan menjadi sangat berharga dan menjadi kekuatan internasional manakala didukung pemerintah untuk pengembangannya.

"Korea, Jepang, Thailand dan negara-negara lain melakukan itu. Indonesia seharusnya didukung pemerintah untuk mengembangkan kuliner tradisionalnya. Ini penting sebagai satu diantara kekuatan yang bisa digunakan untuk diplomasi internasional," tegas Carlos.(tok/rst)
top