suarasurabaya.net

KPK Tidak Persoalkan Strategi Polri untuk Mengungkap Kasus Penyerangan Novel Baswedan
Laporan Farid Kusuma | Sabtu, 28 April 2018 | 11:30 WIB

Kondisi Novel Baswedan Penyidik KPK sebelum terjadi penyerangan. Foto: Farid/Dok. suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), masih menunggu hasil kerja aparat kepolisian yang menangani kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan Penyidik KPK.

Saut Situmorang Wakil Ketua KPK menegaskan, dia tidak mempersoalkan strategi yang diterapkan Polri untuk mengusut kasus tersebut. Yang penting, kata Saut, pelakunya bisa diketahui dan tertangkap.

Pernyataan itu merespon isu dilimpahkannya penanganan kasus Novel dari Polda Metro Jaya, kepada Polres Metro Jakarta Utara.

"Yang utama adalah pelakunya ditemukan. Soal ada banyak orang membantu, apakah perlu di luar sistem, dan unit mana yang melakukan itu, hanya strategi saja," ujar Saut melalui pesan singkat, Sabtu (28/4/2018).

Isu itu muncul sesudah ada panggilan buat Novel Baswedan, Senin (16/4/2018), untuk memberikan keterangan di Markas Polres Metro Jakarta Utara.

Pemanggilan tersebut membuat heran Tim Kuasa Hukum Novel. Karena, kasus teror terhadap Penyidik Senior KPK itu sudah setahun ditangani Polda Metro Jaya, tapi belum juga menemukan titik terang.

Alghiffari Aqsa kuasa hukum Novel khawatir, pengungkapan kasus kliennya oleh penyidik tingkat Polres malah semakin susah.

Merespon isu tersebut, Kombes Pol Nico Afinta Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya membantah. Menurutnya, panggilan pemeriksaan Novel ke Polres Metro Jakarta Utara merupakan bentuk kerja tim gabungan.

Bantahan atas isu pelimpahan perkara Novel dari Polda ke tingkat Polres juga disampaikan Brigjen Pol Muhammad Iqbal Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri.

Iqbal menegaskan, penyidik Polda Metro cuma meminjam Markas Polres Metro Jakarta Utara, supaya lokasi pemeriksaan lebih dekat rumah Novel yang ada di daerah Kelapa Gading.

"Proses penyidikan kasus Novel Baswedan masih ditangani Polda Metro Jaya. Hanya saja, ada beberapa teknis penyidikan, itu strategi kami. Tujuannya, supaya tidak jauh dari rumahnya," kata Iqbal.

Seperti diketahui, Novel Baswedan jadi korban siraman air keras, sesudah Sholat Subuh di masjid dekat rumahnya, kawasan Kepala Gading, Jakarta Utara, Selasa (11/4/2017).

Akibatnya, mata dan hidung Penyidik Senior KPK itu mengalami cedera serius, sehingga harus menjalani serangkaian operasi medis.

Sayangnya, setahun pascaperistiwa itu, Polri masih belum bisa menangkap pelaku penyerangan Novel Baswedan.

Perkembangan terakhir, Jumat (24/11/2017), Tim Penyidik Polda Metro Jaya mengklaim punya petunjuk baru, berupa sketsa dua orang terduga pelaku. (rid/ipg)
top