suarasurabaya.net

HIPMI: Ekonomi Digital Pisau Bermata Dua yang Menyumbang 1,2 Triliun Ekonomi Jatim
Laporan Denza Perdana | Selasa, 16 Oktober 2018 | 10:10 WIB

Ekonomi digital. Grafis: Gana suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Ekonomi digital di Jawa Timur berkembang cukup pesat. Data Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur, sumbangan ekonomi digital terutama di bidang on demand service seperti transportasi online dan layanan antar makanan mencapai Rp1,2 triliun.

Agitya Kamalalia Ketua Bidang Pariwisata Ekonomi dan Industri Kreatif Himpi Jatim mengatakan, dari data itu dia mengatakan, kontribusi ekonomi digital atas pertumbuhan ekonomi di Jatim cukup besar. Padahal beberapa bulan lalu Sri Mulyani Menteri Keuangan menyebutkan, kontribusi ekonomi digital hanya 6 persen dari PDB Indonesia.

"Jadi sebenarnya, peluangnya masih banyak sekali. 1,2 triliun itu hanya di 2017 ya, untuk 2018 ini belum. Mestinya lebih besar lagi," ujarnya kepada Radio Suara Surabaya, Selasa (16/10/2018).

Menurutnya, keberadaan ekonomi digital sudah tidak terelakkan lagi. Pesatnya pertumbuhan pengguna internet dan smartphone di dunia mendorong hadirnya ekonomi digital. Hal ini pun telah mengubah pola pikir, perilaku konsumen, serta pengambilan keputusan baik individu maupun perusahaan. Semuanya, kata dia, harus ikut berpartisipasi di ekonomi digital.

"Yang paling kentara, memang e-commerce dan transportasi online. Meskipun saat ini fintech sudah berkembang, musik dan entertainment juga bisa dibeli online, serta di bidang kesehatan dan pendidikan. Ini semua bergantung bagaimana kita menyikapinya, ini akan menjadi pisau bermata dua, apakah kita mau menggunakan atau meninggalkannya?" Ujarnya.

Meski demikian, dia menyebutkan bahwa ekonomi digital ini memberikan banyak kemudahan. Misalnya e-commerce. Menurut dia keberadaan layanan jual beli online di e-commerce ini memudahkan para penjual dan customer berhubungan langsung. Sehingga tercipta transaksi yang lebih efektif dan efisien.

"Ojek online bisa mengubungkan teman-teman UMKM dari pengusaha kuliner misalnya bisa menjadi line distribusi sendiri. Bahkan ada beberapa teman saya di Jakarta dan Surabaya tidak menyediakan toko fisiknya pure jualan online, dan itu jalan lho," katanya.

Fintech, kata dia, mulai dari pengambilan kredit online menurutnya juga sangat mempermudah penggunanya. Dia juga mencontohkan e-wallet dan produk dompet elektronik atau dompet digital lainnya yang sudah dirasakan manfaatnya oleh para pebisnis, bahkan hingga yang tingkat menengah ke bawah.

"Misalnya, teman-teman saya penjual makanan ringan di Monas, sudah mulai pakai ini. Mereka merasa lebih dimudahkan karena tidak perlu menyediakan uang receh untuk kembalian. Ini memudahkan, dan menjadi faktor pendorong untuk ke level selanjutnya," ujarnya.

Soal pisau bermata dua yang sempat dia sebutkan tentang keberadaan ekonomi digital, tentu akan ada keuntungan dan kerugian yang akan dialami oleh penggunanya. Tapi menurutnya, semua orang saat ini memang harus terus belajar dan tidak menutup mata atau menutup diri.

"Mau enggak mau kita harus ikut berubah. Kalau tidak, ya, akan tertinggal," katanya. "Kami di HIPMI sering sharing, juga bekerja sama dengan bekraf terkait dengan ekonomi kreatif khususnya ekonomi digital termasuk dengan startupnya, atau developer aplikasinya."

Dia menceritakan bagaimana beberapa orang anggota HIPMI Jatim cukup cepat membaca dan menangkap peluang dengan mengembangkan sebuah aplikasi on demand service seperti Go-Jek dan Grab tapi dengan jangkauan lebih lokal. Menurutnya, ada sebuah aplikasi bernama Heeh Jek yang melayani transportasi berbasis aplikasi di Nganjuk.

"Hal-hal seperti inilah yang bikin teman-teman semangat juga. Karena kami juga bisa terus mendorong peningkatan ekonomi lokal, terutama di Jawa Timur," katanya.

Tidak hanya di Nganjuk, ada Fajar Sulih yang merupakan pengusaha aplikasi serupa berbasis on demand service di Tulungagung. Dia telah mendirikan Om-Jek sejak 2011 silam.

"Ekonomi digital pasarnya luas. Saya mulai ojek online tahun 2011 akhir. Di Tulungagung permintaannya masih kecil. Kami cover, lumayan dapatnya. Trasportasi online memang bertumbuh pesat," katanya pada kesempatan yang sama di program Wawasan Radio Suara Surabaya.

Menurutnya, keberadaan transportasi online ini sama-sama menguntungkan bagi produsen maupun konsumen. Sebelum adanya ojek online seperti Go-Jek dan Grab, dia yang memulai bisnis ini di Tulungagung sangat diminati. "Terutama pelajar di sana. Sampai sekarang pun masih," katanya.(den)
top