suarasurabaya.net

Musim Hujan, DBD Peringkat Pertama Penyakit yang Perlu Diwaspadai
Laporan Iping Supingah | Kamis, 29 November 2018 | 11:11 WIB

Ilustrasi.
suarasurabaya.net| Angka pasien terjangkit demam berdarah dengue (DBD) setiap tahunnya mengalami penurunan. Meski begitu, DBD tetap menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai saat memasuki musim hujan seperti saat ini.

dr. Kohar Hari Santoso Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mengatakan, penurunan angka ini terjadi karena peran masyarakat yang banyak berpartisipasi aktif terhadap pencegahan demam berdarah.

"Tahun ini trennya turun jauh lebih rendah dari tahun kemarin. Begitu juga dengan tingkat masalahnya," ujarnya pada Radio Suara Surabaya, Kamis (29/11/2018).

Penurunan angka ini, dr. Kohar menyebutkan, karena kesadaran masyarakat dan peranan pemerintah daerah yang gencar mendorong masyarakat untuk memberantas sarang nyamuk dan memperhatikan pertumbuhan jentik nyamuk. Sehingga pihaknya turut menyampaikan terima kasih.

Peranan masyarakat yang biasa dikenal sebagai Jumantik atau Juru Pemantau Jentik ini, lanjut dr. Kohar, sangat berperan di tengah tren perubahan nyamuk dan kasus DBD sendiri.

"Jadi, dengan gerakan-gerakan yang digalakkan di masyarakat tadi, setidaknya kita masih unggul dan cukup mampu mengatasi demam berdarah sehingga angkanya cenderung turun," ungkap dr. Kohar.

Mengenai kawasan yang menjadi langganan, dr. Kohar menjelaskan, memiliki ciri daerah kumuh, potensial untuk terjadi genangan, dan menjadi potensial untuk menjadi sarang nyamuk.

Untuk beberapa kawasan itu di Jawa Timur, pihaknya mengaku terus melakukan advokasi untuk menggerakkan Pemda, serta sosialisasi kepada masyarakat mengenai risiko dan pencegahan DBD.

"Respons dari langkah tersebut positif. Baik Pemda dan masyarakat bergerak cukup intens," ujarnya.

Selain DBD, penyakit lain yang perlu diwaspadai di musim hujan ini adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan, seperti flu dan pilek. dr. Kohar menyebutkan, prevalensi penyakit ini meningkat pada tahun ini, meski tidak memiliki tingkat kefatalan yang tinggi.

"Pencegahan penyakit ini harus dibarengi dengan menjaga pola hidup, pola makan, dan pola pikir," paparnya.

Selain itu, peluang muncul penyakit di peringkat kedua setelah nyamuk, kata dr. Kohar, adalah dari tikus dan selanjutnya dari udara.

"Karena hujan dan kemudian banjir, potensi penyebaran penyakit dari tikus jadi muncul. Dari faktor udara, harus memperhatikan kebersihan lingkungan," pungkas dr. Kohar. (nin/ipg)
top