suarasurabaya.net

Waspada! Ada 12 Ancaman Potensi Bencana di Jawa Timur
Laporan Ika Suryani Syarief | Rabu, 23 Januari 2019 | 08:45 WIB

Ilustrasi. Grafis: suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Jawa Timur termasuk daerah rawan bencana. Karenanya, BPBD Jawa Timur mengimbau bupati, walikota, camat sampai kades dan lurah untuk selalu mengantisipasi potensi bencana sesuai peringatan BMKG.

Subhan Kepala BPBD Jawa Timur menjelaskan, ada 12 ancaman potensi bencana di Jawa Timur. 11 di antaranya bencana alam dan 1 bencana non alam. Mulai angin puting beliung, banjir bandang, dan sebagainya.

"Wilayah Jawa Timur merupakan jalur pertemuan lempeng tektonik. Banyak gunung berapi aktif yang rawan, punya pesisir dan kepulauan. Jatim juga dilalui siklon. Kalau musim kemarau, Jatim juga sering dilanda kekeringan," katanya kepada Radio Suara Surabaya, Rabu (23/1/2019) pagi.

Dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, 22 kabupaten/kota di antaranya rawan banjir, misalnya daerah sekitar Kali Welang di Probolinggo. Kemudian 13 kabupaten rawan longor, seperti di Pacitan, Trenggalek, Pronorogo dan Banyuwangi. 23 kabupaten berpotensi mengalami kekeringan, dan 156 desa di 8 kabupaten rawan tsunami.

Mulai Desember 2018 sampai hari ini, BPBD mencatat telah terjadi 81 kali banjir, 6 kali banjir bandang, 105 kali angin kencang, puting beliung 32 kali, dan tanah longsor 42 kali. "Alhamdulillah kejadian tanah longsor tidak banyak menimbulkan korban," ujarnya.

Menurut Subhan, Soekarwo Gubernur Jawa Timur juga telah mengajak pemerintah daerah untuk mengantisipasi, siap siaga, dan menggerakkan potensi masyarakat untuk menghadapi bencana.

"Kami memasang alat early warning system dan bersama gubernur menyiapkan 417 desa rawan bencana menjadi desa tangguh bencana. Termasuk memberi pemahaman cara evakuasi orang-orang lanjut usia, anak-anak, dan sosialisasi simulasi bencana," kata Subhan.

Hasil survei menunjukkan, jumlah masyarakat yang selamat dari bencana alam, 35 persen dari upaya dirinya sendiri, 25 persen dari keluarga atau tetangganya, dan dari regu penolong itu hanya 2 persen. Karena itu kesiapsiagaan itu penting.

Terkait penanganan bencana, kata Subahn, pusat pengendalian operasional BPBD di kabupaten/kota yang sudah terkoneksi dengan BPBD Jawa Timur dan BMKG. Jadi kalau ada bencana, 7 menit sudah harus ada tindakan.

"Kami juga menggandeng angggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) dan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) untuk meningkatkan kualitas pelaporan. Kami juga punya relawan di daerah dan tim reaksi cepat kabupaten/kota. Tim ini akan segera datang untuk assesment kebutuhan di lokasi bencana," kata dia.

Subhan menambahkan, pihaknya juga selalu mengecek berita-berita bencana yang beredar di media sosial karena sekarang banyak berita-berita hoaks.(iss/ipg)
top