suarasurabaya.net

Monumen Mastrip, Tanda Mufakat Perubahan Nama Jalan Gunungsari
Laporan Denza Perdana | Minggu, 03 Februari 2019 | 20:48 WIB

Marbai salah satu veteran TRIP bersama Pakde Karwo meletakkan batu pertama Monumen Mastrip, Minggu (3/2/2019). Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Selain meresmikan perubahan nama Jalan Gunungsari menjadi Jalan Prabu Siliwangi dan Jalan Dinoyo menjadi Jalan Sunda, Soekarwo Gubernur Jawa Timur meletakkan batu pertama pembangunan Monumen Mastrip di depan Gedung Perkumpulan Golf Ahmad Yani, Minggu (3/2/2019).

Monumen Mastrip adalah monumen pejuang Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di Surabaya yang tidak lepas dengan Jalan Gunungsari Surabaya. Para pejuang TRIP di Surabaya dalam rangkaian pertempuran 10 November 1945 sempat bertempur hebat di jalan itu.

"Titik pertahanan terakhir para pejuang TRIP sampai di Jalan Gunungsari ini. Jalan ini sangat bersejarah bagi TRIP. Banyak pejuang yang gugur. Pejuang bergerilya sampai di bukit-bukit atas sana saat Jalan Gunungsari jatuh dikuasai Belanda," ujar Budhi Marto Humas TRIP Malang.

Ketika Pemprov Jatim berniat mengubah nama jalan Gunungsari menjadi Prabu Siliwangi untuk tujuan rekonsiliasi budaya antara Budaya Jawa dengan Budaya Sunda, TRIP menjadi salah satu elemen masyarakat yang menolak rencana ini.

Pada Upacara Peringatan 73 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di Gedung Negara Grahadi Jumat 17 Agustus 2018 silam, Sumanto salah seorang pejuang TRIP bersama rekan seperjuangan dan anak-cucu mereka menemui Pakde Karwo.

Saat itu, Sumanto meminta Pakde Karwo tidak mengubah nama Jalan Gunungsari. Pakde Karwo, hari ini, mengatakan, Pemprov perubahan nama jalan ini hasil musyawarah dengan TRIP. Monumen Mastrip menjadi simbol peresmian perubahan nama jalan itu.

"Musyawarah itu ya seputar perubahan nama jalan. Tadinya kan Pemprov mau mengubah nama jalan dari titik Terminal Joyoboyo sampai perempatan pintu masuk Tol Gunungsari. Kami tidak setuju," kata Budhi.

Sampai akhirnya musyawarah itu menyepakati, Jalan Gunungsari yang boleh diubah namanya hanya dari titik pertigaan jembatan menuju Bhumi Marinir sampai pertigaan jalan menuju pintu masuk Tol Gunungsari sepanjang kurang lebih 500 meter.

"Kami sepakat di titik itu. Karena nilai sejarah di ruas jalan ini bagi TRIP memang ada, tapi tidak terlalu kuat. Sebagai gantinya, kami meminta ada monumen yang menunjukkan perjuangan TRIP," ujar Budhi.

Monumen Mastrip pun akan dibangun oleh Pemprov Jatim. Monumen itu direncanakan memiliki tinggi 3,5 meter, dibuat oleh seniman Surabaya, dengan anggaran APBD senilai kurang lebih Rp3,5 miliar.

Lantas kenapa bukan monumen TRIP tapi monumen Mastrip? Seperti nama Jalan Mastrip yang ada di Surabaya, monumen ini juga mengacu pada penamaan yang sama. Dahulu, para tentara pelajar ini akrab disapa "Mas-mas TRIP."

Pakde Karwo Gubernur Jawa Timur yang akan segera mengakhiri masa jabatannya meletakkan batu pertama pembangunan monumen ini bersama Marbai, salah seorang veteran perang TRIP.

"Kami berharap, dengan adanya monumen ini, masyarakat Surabaya terutama generasi muda kita tahu bahwa sebenarnya ada peristiwa bersejarah pertempuran TRIP di Jalan Gunungsari ini," kata Budhi.(den/tin/dwi)
top