suarasurabaya.net

Lomba Film Pendek Education for Unity, Perbedaan Jangan Jadikan Perpecahan
Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 22 Februari 2019 | 16:25 WIB

Penjurian Lomba Film Pendek Education for Unity gelaran Fikom Universitas Ciputra Surabaya. Foto: Humas UC
suarasurabaya.net| Anak muda khususnya pelajar SMA sederajat Indonesia pasti mengetahui keberagaman Indonesia. Mulai dari suku, agama hingga ras. Keberagaman dan perbedaan itu seharusnya justru menjadi penguat persatuan dan bukan menjadi sarana perpecahan.

"Generasi muda atau generasi milenial sejak dini selayaknya diberikan pengetahuan sekaligus pemahaman tentang keberagaman Indonesia. Ada banyak suku, ada banyak ras, ada banyak agama, justru itu yang menjadikan bangsa ini kuat, anak muda perlu memahami itu," terang Patrisia Amanda Pascarina, S.I.Kom., M.A., Dosen Pembina sekaligus Ketua Pelaksana Lomba Film Pendek, Jumat (22/2/2019).

Melalui media film, lanjut Amanda, diharapkan generasi milenial ini sejak dini mulai menyadari bahwa krisis serta konflik karena perbedaan itu memang ada di tengah-tengah masyarakat.

"Justru melalui media film ini, anak muda jangan menjadikan berbagai perbedaan itu sebagai dasar perpecahan serta konflik. Ini yang sangat penting dipahamkan dan ditanamkan kepada generasi muda, anak-anak milenial. Dan media film, dalam hal ini film pendek dapat digunakan sebagai sarana menyuarakan perbedaan bukan untuk perpecahan tersebut," tegas Amanda.


Peserta masing-masing sekolah wajib melakukan presentasi karya dihadapan dewan juri Lomba Film Pendek Fikom Universitas Ciputra (UC). Foto: Humas UC

Amanda mengingatkan bahwa melalui pendidikan, seperti pada lomba film pendek yang digelar Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Ciputra (UC) Surabaya ini, yang bertema Education for Unity, pendidikan harus mampu menjadi pemersatu.

"Dunia pendidikan memang harus mampu menjadi pemersatu semua kalangan, semua golongan, semeua ras, semua suku, bangsa serta agama. Lomba film pendek ini diharapkan juga sarana edukasi sekaligus pemersatu, karena film kan universal," tandas Amanda.

Jumat (22/2/2019) penjurian karya peserta lomba film pendek dilakukan 3 dewan juri, diantaranya akademisi Fikom Universitas Ciputra, Fauzan Abdillah chief of Infis, dan Joshua Axel founder Lumago picture.

Peserta yang berasal dari seluruh Indonesia ini wajib mempresentasikan karyanya didepan dewan juri. "Peserta memang berasal dari sjeumlah provinsi di Indonesia. Lomba memang terbuka untuk seluruh pelajar SMA sederajat se Indonesia," kata Amanda.

Karya-karya para sineas muda dengan durasi 3 menit hingga 5 menit ini sudah terkumpul sejak Januari 2019 lalu, kemudian dilakukan seleksi dan kurasi untuk kemudian selanjutnya dilakukan penjurian penentuan juara atau final pada Jumat (22/2/2019) hari ini.(tok/ipg)
top