suarasurabaya.net

Berbasis Internet of Things, Urai Kemacetan Lalu Lintas
Laporan J. Totok Sumarno | Kamis, 14 Maret 2019 | 18:47 WIB

Menggunakan internet of things untuk uraikan kepadatan dan kemacetan lalu lintas. Foto: Humas Universitas Narotama
suarasurabaya.net| Terinspirasi penumpukan kendaraan saat lampu merah, dosen dan mahasiswa Sistem Komputer Universitas Narotama Surabaya, Slamet Winardi, S.T.,M.T dan Sandi Ifan Maulana melakukan penelitian terkait kemacetan.

"Di semua lampu lalu lintas, durasinya selalu tetap meskipun jumlah kendaraan yang melintas tidak sama di setiap jam. Saat jam padat kendaraan, durasi tersebut kemudian menimbulkan kemacetan yang cukup parah," terang Sandi.

Lalu Sandi dan Slamet Winardi menentukan durasi lampu lalu lintas berdasarkan jumlah kendaraan bermotor dengan mendeteksi plat nomor berbasis Internet of Things. "Tujuannya adalah untuk menghindari salah satu jalur dengan lampu lalu lintas mengalami penumpukan kendaraan saat volume kendaraan cukup banyak," kata Sandi.

Penelitian ini mengacu pada penelitian sebelumnya oleh mahasiswa Sistem Komputer Universitas Narotama bimbingan Slamet dengan menggunakan chip digital tipe wimos dan scanner.

"Cara kerjanya adalah dengan meletakkan chip digital pada jarak sekitar 50 meter dari lampu lalu lintas. Chip wimos akan memancarkan wi fi yang terkoneksi dengan scanner di setiap lampu lalu lintas. Scanner tersebut yang kemudian mendeteksi kendaraan bermotor," terang Sandi lagi.

Pendeteksian kendaraan bermotor juga berbasis internet of things yaitu dengan chip digital yang ditanam pada setiap kendaraan kemudian dimasukkan ke dalam database pusat. Sehingga penelitian ini memang masih membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk diterapkan.

"Setiap kendaraan yang terdeteksi melintas di lampu lalu lintas kemudian dikirim ke pusat untuk diolah dengan rumus. Pengolahan data itu dilakukan untuk menentukan berapa durasi lampu lalu lintas yang paling tepat agar tidak terjadi kemacetan," lanjut pria asal Jepara itu.

Sandi menambahkan pengiriman data kendaraan ke pusat database berdasarkan simulasinya masih mengalami keterlambatan 1 detik namun sudah bisa menghitung durasi tepat untuk lampu hijau, yaitu 24 detik setiap 5 kendaraan.

"Untuk lampu merah, database harus mengolah data kendaraan dari setiap sisi lampu lalu lintas baru bisa mengkalkulasikan durasi yang tepat," kata Sandi.

Jika sistem ini bisa dijalankan di masa depan, Sandi mengatakan keuntungan yang didapat akan mampu mengurai kemacetan Surabaya di jam-jam padat kendaraan.

Misalnya saat jam berangkat dan pulang kantor. "Namun kembali lagi pada masyarakat. Meskipun sistem ini sudah bisa diterapkan nantinya, tapi jika masih banyak orang yang tidak tertib ya sama saja. Moral masyarakat juga harus diperbaiki seiring proses penerapan sistem ini ke depan," pungkas Sandi, Kamis (14/3/2019).(tok/rst)
top