suarasurabaya.net

KPK Gelar Acara Memperingati Dua Tahun Teror Penyiraman Air Keras Novel Baswedan
Laporan Farid Kusuma | Kamis, 11 April 2019 | 10:39 WIB

Yudi Purnomo Harahap Ketua Wadah Pegawai KPK memberikan keterangan terkait peringatan dua tahun teror Novel Baswedan, Kamis (11/4/2019), di Kantor KPK, Jakarta Selatan. Foto: Farid suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (11/4/2019), menggelar serangkaian acara, memperingati dua tahun aksi teror penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan Penyidik KPK.

Acara yang rencananya berlangsung dari pagi sampai malam, diawali dengan aksi bersama yang dimeriahkan penampilan musik, mimbar bebas dan orasi dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari gerakan mahasiswa dan aktivis buruh.

Nantinya juga akan ada deklarasi antiteror terhadap pemberantasan korupsi oleh sejumlah tokoh nasional, di Kantor KPK, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Selain itu, Aksi Kamisan yang didukung berbagai elemen masyarakat juga akan digelar di depan Istana Negara Jakarta, pada pukul 16.00 WIB.

Malam harinya, sekitar pukul 19.00 WIB, acara dilanjutkan dengan dialog budaya untuk mendorong penuntasan kasus teror Novel Baswedan, yang dipimpin Emha Ainun Najib (Cak Nun) bersama Novel Baswedan, serta musikalisasi puisi oleh Najwa Shihab.

Yudi Purnomo Harahap Ketua Wadah Pegawai KPK mengatakan, rangkaian aksi itu merupakan bentuk keprihatinan atas ketidakmampuan Polri mengungkap kasus percobaan pembunuhan terhadap penyidik senior KPK.

Maka dari itu, Wadah Pegawai KPK kembali mendesak Presiden membentuk tim gabungan pencari fakta yang mandiri, supaya terungkap siapa pelaku dan dalang penyerang Novel, serta tidak ada lagi teror terhadap KPK.

"Hari ini, apa pun pilihan politikmu, mari berkumpul di KPK untuk mendukung Presiden berani membentuk TGPF Independen agar teror terhadap KPK berhenti dan teror sebelumnya tertangkap siapa pelakunya," ucap Yudi di Gedung Merah Putih, Kamis (11/4/2019).

Seperti diketahui, Novel Baswedan jadi korban siraman air keras, sesudah Sholat Subuh di masjid dekat rumahnya, kawasan Kepala Gading, Jakarta Utara, Selasa (11/4/2017).

Akibatnya, mata dan hidung Penyidik KPK yang sebelumnya anggota Polri itu mengalami cedera serius, sehingga harus menjalani serangkaian operasi medis.

Ironisnya, sampai dua tahun pascaperistiwa itu, Polri masih belum bisa menangkap pelaku penyerangan Novel Baswedan. (rid/tin/ipg)
top