suarasurabaya.net

Jelang Waisak, Patung Budha Tidur Dibersihkan
Laporan Agustina Suminar | Jumat, 17 Mei 2019 | 15:28 WIB

Pembersihan patung Budha Tidur di Maha Vihara Majapahit Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jumat (17/5/2019). Foto: Fuad Maja FM
suarasurabaya.net| Menjelang Hari Raya Waisak yang akan jatuh pada Minggu (19/5/2019) pukul 04.11 WIB, dilakukan sejumlah persiapan dan pembersihan patung Budha Tidur di Maha Vihara Majapahit Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Berdasarkan pantauan Fuad Radio Maja FM Mojokerto, Jumat (17/5/2019), ritual membersihkan patung Budha Tidur atau (sleeping Budhist) selain agar lebih bersih, juga menjadi simbol membersihkan pikiran dan hati dari hal-hal negatif.

"Filosofi pembersihan patung Budha Tidur ialah sama seperti pribadi manusia, sebelum akan melakukan kegiatan ritual pembersihan dilakukan (pembersihan, red) secara lahir dan batin," ungkapnya.


Pembersihan patung Budha Tidur di Maha Vihara Majapahit. Foto: Fuad Maja FM

Saryono Upasaka Pandita (UP) Dhammapalo Maha Vihara Mojopahit mengatakan, pembersihan patung Budha Tidur yang memiliki panjang 22 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4,5 meter ini, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Namun ia menambahkan, ada ritual yang dilakukan pada tahun ini tapi tidak dilakukan pada tahun sebelumnya, yakni ritual pembakaran rupang.

"Rupang yang dibuat dari kardus nanti akan dibakar saat akhir pemujaan," tegasnya.

Pada tahun ini, detik-detik Waisak jatuh pada pukul 04.11 WIB. Namun upacara akan dilakukan sejak pukul 02.30 WIB.

Suryono mengatakan, posisi Sang Budha bukanlah tidur, tapi seperti saat Sidharta wafat, yang posisinya seperti tidur dengan miring ke arah kanan.

Patung Budha tidur di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, dibangun pada 1993 oleh seniman asal Solo Jawa Tengah dan dibantu oleh seniman lokal asal Kecamatan Trowulan. Sedangkan proses pengecatan dengan warna keemasan dilakukan pada tahun 1999. Meski berwarna emas, namun patung ini terbuat dari cor beton.

"Warna itu dianggap sebagai warna dari segalanya," tegasnya.

Sedangkan pada bagian bawah patung terdapat relief-relief yang menggambarkan kehidupan Buddha Gautama, yakni hukum karmaphala dan hukum tumimbal lahir.(fad/tin/ipg)
top