suarasurabaya.net

Posting Ujaran Kebencian, Guru Honorer di Sumenep Ditangkap
Laporan Anggi Widya Permani | Minggu, 19 Mei 2019 | 13:27 WIB

AKBP Cecep Susatya Kasubdit V Cyber Crime Ditreskrimum Polda Jatim menggelar perkara dugaan ujaran kebencian yang dilakukan Hairul Anwar (tengah), guru honorer di Kabupaten Sumenep, Madura. Foto: Anggi suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Seorang guru honorer di Kabupaten Sumenep, Madura, diamankan polisi, karena telah memosting ujaran kebencian di akun facebooknya. Hairul Anwar (35) ditangkap pada Sabtu (18/5/2019) kemarin, di SDN Prenduan II Sumenep, tempat tersangka mengajar.

AKBP Cecep Susatya Kasubdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim mengatakan, pria asal Pamekasan ini melakukan ujaran kebencian terhadap Joko Widodo Presiden RI, Menkopolhukam, dan beberapa tokoh lainnya. Bahkan tersangka juga menantang instansi kepolisian untuk mencari keberadaannya dan melakukan penangkapan.

"Dia pakai fake account dengan nama Putra Kurniawan. Tapi nama aslinya Hairul Anwar. Dia menghina Presiden RI, ujaran kebencian kepada beberapa tokoh, dan berita bohong. Dia juga sempat melontarkan kata bunuh, yang nanti akan kita libatkan saksi ahli. Apakah itu termasuk ancaman atau bagaimana," kata Cecep, Minggu (19/5/2019).

"Dia juga pernah memposting, mana ini polisi yang mau menangkap saya. Akhirnya berhasil kami temukan keberadaannya dan harapannya dia tertangkap, tercapai juga," tambahnya.

Cecep menambahkan, sampai saat ini polisi masih menyelidiki kasus ini. Sebab, tersangka tidak hanya mengunggah postingan satu kali saja. Melainkan postingan ujaran kebencian ini juga sempat dilakukannya sebelum pelaksanaan Pemilu 2019.

"Postingannya beragam, ada yang 9 Mei, 22 Maret, dan masih banyak lagi. Ada beberapa postingan yang masih kita dalami," kata dia.

Sementara tersangka, di hadapan polisi mengaku melakukan hal itu karena ikut-ikutan saja menanggapi kondisi politik yang dinilainya cukup memanas. Dia mengaku menyesal dan pasrah untuk proses hukum yang akan menjeratnya akibat perbuatannya itu.

"Ya reflek saja. Saya ikut-ikutan. Iya itu (postingan, red) untuk presiden. Saya pendukung 02. Ya menyesal dan pasrah saja," kata tersangka.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 28 Ayat 2 Jo Pasal 45 A Ayat 2 UU ITE dan Pasal 207 KUHP. Dengan ancaman pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda Rp1 miliar. (ang/rst)

top