suarasurabaya.net

Bambookoe Karya Mahasiswa FIK Ubaya Rebut Juara di Yogyakarta
Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 24 Mei 2019 | 19:44 WIB

Bambookoe karya mahasiswa Fakultas Industri Kreatif (FIK) Universitas Surabaya, menangi juara di Yogyakarta. Foto: Humas Ubaya
suarasurabaya.net| Arby Maulana dan Prasetiya Marani Kartajaya, dua mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya), raih The Best Trend Implementation Design dengan karya dari batang Bambu, Bambookoe pada ajang kompetisi Design Camp #1.

Kompetisi ini bagian dari Gelar Desain bertajuk Bamboo Experience for Creative Millennials gelaran Asosiasi Desain Produk Indonesia (ADPI) di UKDW, Yogyakarta, minggu lalu.

Kompetisi diikuti oleh 32 mahasiswa desain produk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dari seluruh Indonesia.

Arby dan Prasetiya mahasiswa FIK Ubaya angkatan 2017 ciptakan Bambookoe dari kreasi Bambu berupa lampu tidur dan stationary. Bambookoe dibuat multifungsi.

Ukiran pada produk lampu tidur memiliki filosofi yang terinspirasi dari icon kota Surabaya seperti patung Sura dan Baya, Bambu Runcing, anyaman, dan kobaran api.

"Selain digunakan sebagai lampu tidur, bagian bambu runcing dapat digunakan meletakkan kuas atau alat tulis. Kemudian ada ukiran api yang menunjukkan semangat Arek-arek Suroboyo yang memiliki history perjuangan di Kota Pahlawan. Dan anyaman untuk memperkenalkan anyaman Bambu," terang Arby, Jumat (24/5/2019).

Pada kompetisi ini, seluruh peserta diajak mengunjungi pengrajin bambu di Sentra Kerajinan Bambu Sendari. Peserta diminta untuk menciptakan kreasi bambu dengan desain yang kreatif serta inovatif dari sudut pandang milenial.

Kompetisi diawali dengan workshop Kerajinan Bambu Sinta dan peserta diminta belajar bagaimana cara mengolah bambu dan mempromosikan bambu menjadi produk yang tidak dianggap murah dan memiliki nilai jual.

"Kompetisi ini memberikan motivasi pengrajin bambu ciptakan terobosan baru di era milenial. Selain kami mendapat ilmu terkait pengolahan bambu secara tradisional dari mereka, kami juga memberikan feedback berupa ide baru yang bisa diproduksi pengrajin nantinya," tambah Arby.

Proses perencanaan produk dilakukan oleh Arby dan Prasetiya dengan menggambar serta mempersiapkan produk selama kurang lebih dua minggu.

Setelah eksplorasi dan terjun secara langsung di tempat pengrajin, membuat tim Ubaya menjadi lebih termotivasi untuk membuat produk bambu yang bermanfaat dan diminati banyak orang.

Karya Bambookoe oleh tim Ubaya dinilai memiliki proses pembuatan yang cepat serta sederhana namun memiliki estetika yang berdaya jual tinggi.

Hal ini membuat tim Ubaya mendapat predikat The Best Trend Implementation Design karena melihat unsur keindahan, memiliki waktu produksi yang cepat, dan bisa diimplementasikan oleh pengrajin bambu.

"Semoga desain karya produk yang telah kami buat, menjadikan material bambu bisa lebih dikenal masyarakat luas dan bisa mengubah persepsi masyarakat bahwa bambu bisa menjadi produk yang elegan. Bambu juga mampu menjadi karya futuristik," tambah Prasetiya.

Sementara itu, ditambahkan Wyna Herdiana, S.T., M.Ds., Kepala Program Studi Desain Produk Fakultas Industri Kreatif (FIK) Ubaya sekaligus Dosen Pembimbing Kompetisi menuturkan bahwa Arby dan Prasetiya telah menunjukkan bahwa bambu bisa menjadi karya produk yang bagus.

"Mahasiswa sebelumnya memang belum pernah mencoba menggunakan bahan material bambu sebagai bahan prototype produk, karena bentuknya silinder dan kurang luwes sehingga sulit jika ingin dibentuk menjadi produk yang tidak bulat. Berbeda dengan Rotan. Namun demikian, harapan kami semoga karya Arby dan Prasetiya bisa jadi inspirasi," pungkas Wyna Herdiana, Jumat (24/5/2019).(tok/ipg)
top