suarasurabaya.net

Kehilangan Tempat Tampil, Tetap Berikthiar Hidupkan Ludruk
Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 14 Juni 2019 | 16:11 WIB

Saat seniman tradisional THR Surabaya menggelar aksi di halaman DPRD Surabaya. Foto: Totok/Dok. suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara, yang biasa tampil di satu di antara gedung pertunjukan Ludruk di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, dipastikan bakal kehilangan tempat tampil. Namun demikian, mereka tetap berikthiar tampil dan hidupkan Ludruk di Kota Surabaya.

Meimura sutradara sekaligus inisiator Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara, Jumat (14/6/2019) menyampaikan bahwa pihaknya tetap akan mencari dan mencoba mengajak beberapa pihak agar Ludruk tetap bisa tampil dan hadir di Kota Surabaya.

"Tentu saja kami kehilangan tempat untuk tampil, seperti hari-hari sebelumnya. Kata kawan-kawan yang masih ada di sana, di THR, selain sarana dan prasarana sudah tidak bisa digunakan lagi. Tapi kami tetap berusaha, agar Ludruk tetap ada di Kota Surabaya," terang Meimura.

Kesenian Ludruk, lanjut Meimura merupakan kesenian yang hingga saat ini dikenali masyarakat luas bahkan di seantero jagad sebagai satu diantara kesenian tradisional khas Surabaya.

"Kami tetap berusaha menampilkan Ludruk. Kami berharap kesenian yang menjadi satu di antara ciri khas dan kesenian tradisional yang berasal dari Kota Surabaya ini tetap ada dan bisa disaksikan masyarakat luas di Kota Surabaya. Tugas kami juga untuk menjaga eksistensi seni tradisional," tambah Meimura.

Terkait dengan rencana penutupan THR Surabaya, khususnya tempat dimana beberapa jenis kesenian tradisional tampil, termasuk Ludruk, Meimura mengingatkan bahwa seniman taat hukum dan selalu berusaha untuk berpikir positif.

"Kami para seniman selalu taat hukum. Kami juga berusaha untuk tetap berpikir positif, dengan segala peristiwa yang menimpa kami saat ini. Semoga secepatnya kami menemukan solusi untuk tetap menghidupkan Ludruk serta seni tradisional lainnya," tegas Meimura.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah seniman tradisional THR Surabaya beberapa waktu lalu menggelar aksi demo di halaman DPRD Surabaya mempertanyakan nasib mereka terkait dengan penutupan segala akses di THR tempat seniman tradisional berkarya dan hidup.

Penutupan sarana dan prasarana yang biasa dipakai seniman tradisional berkarya tersebut berlanjut dengan pemutusan listrik. "Kami tetap berusaha taat hukum dan ketentuan yang dibuat Pemkot Surabaya," pungkas Meimura.(tok/ipg)
top