suarasurabaya.net

Lima Kabupaten Minta Air, Khofifah Surati Pemda Siaga Darurat Kekeringan
Laporan Denza Perdana | Selasa, 25 Juni 2019 | 13:14 WIB

Ilustrasi. Foto: dok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Suban Wahyudiono Kepala BPBD Jatim mengatakan, sudah ada lima kabupaten di Jawa Timur yang meminta didrop air bersih, sejak pertengahan Juni lalu, karena sejumlah desanya sudah mengalami kekeringan.

"Ada lima daerah yang saat ini sudah meminta dropping air bersih untuk desanya. Salah satunya, Kabupaten Pacitan," ujar Suban kepada suarasurabaya.net, Selasa (25/6/2019).

Kabupaten Pacitan meminta pasokan air bersih ke BPBD Jatim untuk memenuhi kebutuhan air bersih di tiga desa yang tersebar di tiga kecamatan. Sejak 22 Juni lalu, pasokan air bersih sudah dikirim.

BPBD Jatim memenuhi permintaan pasokan air bersih ini sebanyak satu tangki berkapasitas 6 ribu liter air untuk setiap desa, setiap harinya. Ini juga berlaku untuk daerah lainnya.

Selain Pacitan, BPBD Jatim juga sudah mulai mengirimkan pasokan air bersih ke Kabupaten Trenggalek, yang didistribusikan untuk empat desa di salah satu kecamatannya mulai 15 Juni lalu.

Demikian halnya ke Magetan. Ada satu desa di Kecamatan Karas, Magetan, yang sudah menerima pasokan air bersih sejak 19 Juni kemarin. Lalu tiga desa di dua kecamatan di Lamongan, sudah sejak 13 Juni kemarin.

Tidak hanya itu, BPBD juga sudah melayani permintaan pasokan air bersih untuk 14 desa di enam kecamatan yang ada di Kabupaten Lumajang. Pengiriman air ini juga sudah dilakukan sejak 13 Juni lalu.

"Lumajang ini untuk Kecamatan Ranuyoso dan Klakah. Itu di bagian utara Lumajang, yang ketika saya ke sana, lokasinya ternyata lebih tinggi dari sumber airnya. PDAM kesulitan menaikkan air ke sana, mesinnya sering jebol," ujarnya.

Dari semua daerah yang sudah mengalami kekeringan, Pacitan adalah salah satu kabupaten yang masuk tiga besar daerah sebagai jumlah desa terbanyak berpotensi mengalami kekeringan kritis.

Justru, kata Suban, Kabupaten Sampang yang diperkirakan menjadi Kabupaten dengan desa terbanyak berpotensi kekeringan kritis (mencapai 67 desa), sampai sekarang belum meminta air.

"Kenapa? Setelah saya cek ke sana, ternyata masih ada beberapa kecamatan (di Sampang, red) yang masih mengalami hujan. Tetapi kami sudah koordinasi dengan BPBD Sampang, Juni ini pasokan air siap dikirim saat masyarakat minta," katanya.

Hasil pemetaan potensi bencana kekeringan BPBD Jatim dengan BPBD kabupaten/kota pada Mei lalu, ada 24 kabupaten dari 38 kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur berpotensi terdampak kekeringan.

Sebanyak 566 desa dari 822 desa yang terpetakan berpotensi mengalami kekeringan kritis, yakni kondisi di mana ketersediaan air untuk setiap orang per hari kurang dari 10 liter.

"Nah, dari 566 itu, ada 199 desa yang diketahui sama sekali tidak ada potensi airnya. Dibor tidak bisa, dan sumber airnya jauh. Sedangkan 367 desa lainnya kami dapati masih bisa dibor. Perpipaan (air bersih) juga tidak terlalu jauh," katanya.

Berkaitan dengan kondisi itu, Suban menegaskan, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur sudah mengedarkan surat kepada 24 Pemda itu agar segera siaga darurat bencana kekeringan 2019.

"Kemarin surat itu sudah diluncurkan, diedarkan ke Bupati dan Wali Kota di Jawa Timur. Tapi sebelum itu, kami di BPBD juga sudah melakukan antisipasi-antisipasi berkaitan potensi bencana ini," katanya.

Sampai hari ini, BPBD Jatim telah membagikan sebanyak 890 tandon air dan sejumlah besar jeriken kepada BPBD kabupaten/kota sebagai bentuk antisipasi kekurangan pasokan air bagi masyarakat.(den/dwi)
top