suarasurabaya.net

Penguatan Kualitas Jalan, Tim PKM ITS Gunakan Campuran Limbah Plastik
Laporan J. Totok Sumarno | Kamis, 18 Juli 2019 | 15:25 WIB

Thoriq saat melakukan percobaan pencampuran limbah plastik pada aspal untuk upaya peningkatan kualitas jalan. Foto: Humas ITS
suarasurabaya.net| Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ITS melakukan penelitian penggunaan limbah plastik sebagai bahan substitusi dan aditif campuran aspal menjadi hal positif sebagai upaya terus mengembangkan peningkatan kualitas jalan.

Thoriqul Huda Ketua Tim PKM ITS menyampaikan bahwa pemanfaatan limbah plastik sebagai campuran aspal memberikan tingkat perkerasan yang lebih baik serta daya tahan yang semakin tinggi.

Namun, sifat kimiawi bitumen atau sering disebut aspal yang merupakan hidrofilik (polar) bertolak belakang dengan sifat plastik yang merupakan hidrofobik (nonpolar).

Mahasiswa yang akrab disapa Thoriq ini menjelaskan bahwa indikasi aglumerasi atau penggumpalan di dalam struktur perkerasan jalan diketahui dari meningkatnya paramater Void In Mix (VIM) dari hasil pengujian Marshall (metode pengujian stabilitas aspal).

"Nilai VIM cenderung meningkat seiring pertambahan persentase kadar plastik," papar mahasiswa dari Departemen Teknik Infrastruktur Sipil ITS ini.

Nilai VIM berpengaruh terhadap keawetan lapis perkerasan. Semakin tinggi nilai VIM menunjukkan semakin besar rongga dalam campuran, sehingga campuran bersifat pourus (berpori atau cenderung getas).

Hal ini mengakibatkan campuran menjadi kurang rapat, sehingga air dan udara mudah memasuki rongga-rongga dalam campuran yang menyebabkan aspal mudah teroksidasi.

Air akan melarutkan komponen-komponen yang akan teroksidasi, sehingga mengakibatkan terus berkurangnya kadar aspal dalam campuran.

Penurunan kadar aspal dalam campuran menyebabkan lekatan antara butiran batuan berkurang, sehingga terjadi pelepasan butiran (revelling) dan pengelupasan permukaan (stripping) pada lapis perkerasan jalan.

Sehingga diperlukan adanya coupling agent sebagai agen penggandeng antara dua material. "Syarat dari coupling agent adalah memiliki sifat yang hidrofobik dan hidrofilik," terang Thoriq menjelaskan.

Penelitian ini digarap Thoriq bersama Moh Firli Firdausi (Teknik Infrastruktur Sipil) dan Muhammad Rizal Afif (Teknik Material) yang tergabung dalam tim PKM - Penelitian (PKM-PE).

Mereka mencoba mengembangkan upaya peningkatan kualitas lapisan AC-BC sebagai lapis antara struktur atas jalan menggunakan Polymer Modified Bitumen (PMB) limbah plastik Low Density Polyethylene (LDPE ) dan lignin sebagai coupling agent terhadap parameter stabilitas Marshall.

Thoriq mengatakan, tujuan dari penelitian ini ialah guna mengetahui morfologi dan ikatan yang terbentuk akibat penambahan lignin sebagai coupling agent terhadap Polymer Modified Ritnen (PMB).

"Kemudian juga untuk mendapatkan rekomendasi proporsi campuran untuk lapisan AC-BC yang berdampak pada pemanfaatan limbah sampah plastik dan penurunan biaya pelaksanaan struktur permukaan jalan," papar Thoriq lagi.

Dari penelitian ini, menurut Thoriq, didapatkan hasil yaitu terjadi peningkatan stabilitas lapis AC-BC hingga 75,9 persen dibandingkan dengan hanya menggunakan aspal murni. Serta mampu menghemat anggaran biaya pelaksanaan jalan hingga Rp 40.480.625,09 dan memanfaatkan 3,96 limbah ton sampah plastik LDPE per km.

Harapan Thoriq terhadap penelitian ini, hasilnya bisa dipaparkan ke Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN). Soalnya tahun 2018 lalu, kementerian berencana melakukan uji coba lagi jalan aspal plastik sepanjang 27 kilometer.

"Kami harapkan mampu memaparkan hasil penelitian kami kepada pengelola infrustruktur di pihak pemerintah, sehingga menjadi rujukan ataupun masukan terhadap penelitian yang kami lakukan," pungkas Thoriq, Kamis (18/7/2019).(tok/tin/ipg)
top