suarasurabaya.net

Tim ITS Kembangkan Aplikasi Membran, Pisahkan Gas CO2
Laporan J. Totok Sumarno | Rabu, 24 Juli 2019 | 18:46 WIB

Tim mahasiswa ITS saat melakukanpenelitian dan uji coba. Foto: Humas ITS Surabaya
suarasurabaya.net| Mahasiswa ITS mengembangkan material aplikasi membran MMM-NKTZ untuk pemisahan gas CO2. Temuan ini menjawab tantangan belum adanya langkah spesifik olah emisi gas Karbondioksida (CO2) hasil industri kilang minyak.

Penelitian ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mulai mengolah limbah CO2 sebelum dibuang ke udara.

Tim mahasiswa tersebut adalah Rafika Amalia Annur, Safiratul Firdaus, dan Retia Faizatun N yang berasal dari Departemen Kimia, Fakultas Sains ITS. Rafika selaku ketua tim menjelaskan, selama ini limbah gas CO2 kerap kali langsung dibuang begitu saja tanpa diolah terlebih dahulu yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global.

Pada tahun 2016 saja, menurut Rafika, emisi gas CO2 sudah mencapai 49.3 giga ton. "Yang mana itu setara dengan 72 persen dari total emisi gas pada tahun tersebut," terang Rafika.

Rafika menyampaikan bahwa yang diteliti oleh timnya adalah pengembangan material aplikasi membran untuk pemisahan gas CO2.

Rafika menjelaskan, selama ini material umum untuk membran adalah zat karbon dan zeolit. Karbon digunakan karena luas permukaannya besar dan zeolit digunakan lantaran memiliki tingkat penyerapan CO2 yang tinggi.

"Hingga akhirnya banyak peneliti yang mulai mengembangkan gabungan kedua material ini menjadi karbon tertemplat zeolit (KTZ)," papar Rafika.

Tujuan pengembangan KTZ adalah untuk mendapatkan material yang mampu menyerap CO2 dalam jumlah banyak dan luas permukaan yang besar seperti material yang digabungkan tadi.

Rafika dan tim menggunakan material KTZ yang telah diberikan doping nitrogen (menjadi N-KTZ) sebagai pengisi membran pemisahan karbondioksida. "Dengan adanya gugus nitrogen yang bersifat basa, kami harap mampu mengikat gas CO2 yang cenderung sifatnya asam," kata Rafika.

Pembuatan membran ini sendiri masih dalam tahap penelitian, mulai dari proses pembuatan material N-KTZ, hingga pembuatan membran flat MMM-NKTZ, serta uji daya serap gas CO2.

Meski baru diteliti dalam skala laboratorium, ke depannya Rafika dan tim ingin mengembangkan temuan ini agar dapat digunakan pada skala industri. "Jadi gak hanya kilang minyak saja, namun juga dapat diaplikasikan di industri lain yang mengemisikan limbah CO2," ujar Rafika.

Tim PKM binaan Nurul Widiastuti SSi MSi PhD ini juga berharap agar penelitian mereka dapat digunakan sebagai sumber referensi bagi penelitian selanjutnya.

Pasalnya, Rafika menambahkan, aplikasi membran ini tidak hanya dapat mengurangi emisi gas CO2, namun juga untuk digunakan bagi sektor lain.

"Nantinya kalau dikembangkan lebih jauh lagi, berbagai sektor industri di Indonesia akan mampu mengolah limbah CO2 dengan lebih matang," pungkas Rafika, Rabu (24/7/2019).(tok/rst)
top