suarasurabaya.net

PLTS Madura Siap Mengalirkan Listrik di 8 Kepulauan
Laporan Agustina Suminar | Kamis, 08 Agustus 2019 | 15:31 WIB

Ilustrasi. Rangkaian panel surya terpasang untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dibangun PT PLN (Persero) Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur di Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur. Foto: Antara
suarasurabaya.net| Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dibangun di wilayah Madura, Jawa Timur, siap mengalirkan listrik di delapan kepulauan wilayah setempat pada bulan ini, kata salah satu pejabat PLN Jatim di Surabaya.

"Semoga listrik dapat segera dinikmati masyarakat di delapan Kepulauan di Madura pada bulan ini, dan ini juga sebagai hadiah HUT ke 74 RI," kata Imam Asrori Manager PLN Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) Provinsi Jawa Timur di Surabaya, Kamis (8/8/2019).

Imam mengatakan, aliran listrik di delapan kepulauan wilayah Madura ini selaras dengan komitmen PLN untuk mencapai rasio elektrifikasi 100 persen pada tahun 2020.

Delapan kepulauan yang segera menikmati listrik itu masing-masing Pulau Pagerungan Kecil, Pulau Tonduk, Pulau Paliyat, Pulau Sabuntan, Pulau Saubi, Pulau Goa-Goa, Pulau Sakala, dan Pulau Masakambing.

"Melistriki dengan menggunakan PLTS ini merupakan upaya kami untuk konsisten mewujudkan green energy yang ramah lingkungan dan tanpa emisi," tuturnya dilansir Antara.

Ia mengatakan, hingga saat ini progres pembangunan PLTS sudah mencapai 90 persen, dan diperkirakan beroperasi pada bulan ini. Dan nantinya akan beroperasi selama 12 jam dalam sehari.

Sebelumnya, Imam mengaku, bukan tanpa tantangan untuk melistriki delapan kepulauan di Madura. Sebab untuk menuju Pulau Tonduk misalnya, petugas PLN harus mengarungi lautan penuh ombak dengan jarak tempuh sekitar 6 jam dengan Kapal Ferry, kemudian dilanjutkan 30 menit dengan perahu kecil.

Listrik yang akan mengaliri Pulau Tonduk berkapasitas 200 kWP dengan potensi 1.200 pelanggan.

"Kami ke lokasi dimulai dari proses survei jaringan, survei lokasi PLTS, pengiriman tiang beton/besi melalui jalur laut yang tidak ada akses kendaraan dari pelabuhannya, kemudian pembangunan jaringan tegangan rendah hingga koordinasi dengan aparat setempat, tokoh masyarakat merupakan proses panjang yang telah berhasil kami lalui," katanya.

Sebelumnya, kata Imam, warga di delapan kepulauan menggunakan genset atau swadaya masyarakat untuk penerangan sehari-hari.

Imam menjelaskan, untuk membangun PLTS terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, misalnya faktor luasan, pencahayaan serta akses menuju lokasi yang dapat menjamin efektivitas penyaluran dan kualitas tegangan.

"Usai mengaliri delapan kepulauan di Madura, pada tahun ini akan kami lanjutkan melistriki 23 pulau kecil lainnya di Madura, juga menggunakan PLTS," katanya.(ant/tin/ipg)
top