suarasurabaya.net

11 Mahasiswa Luar Negeri Belajar Vaksinasi di SEP Ubaya
Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 09 Agustus 2019 | 13:36 WIB

Mahasiswi asal Serbia sedang mencoba belajar tentang vaksinasi di Universitas Surabaya (Ubaya). Foto: Humas Ubaya
suarasurabaya.net| Rangkaian Host Student Exchange Programme (SEP), mahasiswa Prodi Farmasi dan Prodi Kedokteran Universitas Surabaya (Ubaya) bersama 11 mahasiswa luar negeri belajar vaksinasi.

SEP yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi (BEM FF) merupakan yang kedua diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Ubaya.

Tahun ini SEP memilih tema Education is the Foundation, Knowledge is The Power, Indonesia is The Place. Tema ini dimaknai, bahwa pendidikan merupakan pondasi, pengetahuan yang mumpuni adalah sebuah kekuatan, dan Indonesia merupakan tuan rumah untuk berbagi pengetahuan dan pendidikan terkait kesehatan.

Dr. Oeke Yunita, S.Si., M.Si., Apt., penerima Hibah Insentif Buku Ajar Perguruan Tinggi dari Kemristekdikti tahun 2018, menyampaikan bahwa vaksin sebagai obat hayati produk biologis harus terus menerus mendapatkan perhatian untuk dikembangkan.

"Vaksin termasuk obat hayati produk biologis yang harus dikembangkan dan dipahami oleh tenaga kesehatan dari cara membuat, assessment (penilaian) dan memasarkannya. Forum diskusi ini menjadi menarik dibahas karena ada beberapa negara yang menolak penggunaan vaksinasi. Adanya perbedaan penanganan dan pemanfaatan vaksin mendorong mereka untuk berbagi cerita, memberikan opini serta solusi," terang Dr. Oeke Yunita, S.Si., M.Si., Apt.

Selama tiga minggu, mahasiswa luar negeri tidak hanya melakukan internship (magang) di Apotek Ubaya, National Hospital, dan Apotek Kimia Farma. Namun, juga terlibat dalam membangun hubungan cross cultural communication dengan mahasiswa Ubaya melalui forum diskusi mengenai etika Bioteknologi Farmasi terkait vaksin.

Vaksin faktanya memang sampai saat ini masih menimbulkan permasalahan ethics di beberapa negara. Melalui forum diskusi ini, mahasiswa dapat berinteraksi dan bertukar informasi mengenai permasalahan dan pemanfaatan vaksin di tiap negara masing-masing.

Pemilihan vaksin menjadi topik pembahasan dalam forum diskusi untuk memberikan dasar dan pengetahuan terkait aplikasinya di dunia kesehatan.

Untuk memandu proses belajar, diundang beberapa narasumber. Untuk membahas Bioethics Class tentang vaksinasi yaitu Dr. Oeke Yunita, S.Si., M.Si., Apt., selaku koordinator dan dr. Risma Ikawaty, Ph.D., selaku Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Ubaya.

Sesi ini dimoderatori oleh Alfian Hendra Krisnawan, S.Farm., M.Farm., Apt. dan Dr. Marisca Evalina Gondokesumo, S.H., M.H., S.Farm., M.Farm-Klin., Apt., selaku Dosen Fakultas Farmasi Ubaya.

Awal gagasan SEP adalah ketika Oeke Yunita mengimplementasikan project terkait DIES training course dari DAAD yang berjudul Collaborative International Learning yang menggandeng beberapa pihak seperti praktisi, rumah sakit, dan apotek untuk memberikan bekal pengetahuan terkait profesi Apoteker.

Project ini dibuat untuk meningkatkan impact dari internasionalisasi di Fakultas Farmasi Ubaya. Kesebelas mahasiswa asing yang terlibat dalam SEP berasal dari sembilan negara yaitu Perancis, Polandia, Spanyol, Mesir, Slovenia, Serbia, Irak, Hungaria, dan Switzerland.

"Forum diskusi ini menjadi menarik dibahas karena ada beberapa negara yang menolak penggunaan vaksinasi. Adanya perbedaan penanganan dan pemanfaatan vaksin mendorong mereka untuk berbagi cerita, memberikan opini serta mencoba bersama-sama menemukan solusi," papar Oeke.

Oeke yang lahir di Surabaya menjelaskan bahwa, Fakultas Farmasi Ubaya bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Ubaya dalam Bioethics Class mempelajari etika Bioteknologi Farmasi terkait vaksinasi.

Kolaborasi ini dalam pendidikan di bidang kesehatan dikenal sebagai Interprofesional Education (IPE). Artinya pelaksanaan pembelajaran diikuti oleh dua atau lebih mahasiswa calon profesi kesehatan yang berbeda untuk meningkatkan kompetensi lulusan sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal di dunia kesehatan.

Berbeda dengan implementasi IPE pada umumnya, Ubaya tidak hanya melibatkan tenaga kesehatan dalam negeri namun juga melakukan sinergi dengan tenaga kesehatan dari luar negeri.

"Kami menerapkan konsep Internationalization at Home (IAH) dengan maksud internasionalisasi tidak hanya dirasakan mahasiswa yang mengikuti program pertukaran pelajar saja, tapi internasionalisasi pada dalam kurikulum pembelajaran di kelas," kata Oeke.

Harapannya, lanjut Oeke semua mahasiswa dapat memiliki perspektif global dan softskill yang mumpuni untuk berinteraksi lintas negara dalam bertukar informasi dan menambah wawasan dalam dunia medis khususnya apoteker.

Hal ini sejalan dengan perolehan akreditasi international pada bulan Juli 2019. Fakultas Farmasi Ubaya menerima sertifikasi Accreditation Council For Pharmacy Education (ACPE).

Sertifikasi ini mendorong Fakultas Farmasi Ubaya untuk memperkuat sistem edukasi di Ubaya dan meningkatkan pembelajaran di level Internasional.

"Kami ingin membiasakan mahasiswa bahwa diskusi tidak harus bertemu dalam satu kelas tapi bisa dilakukan secara online dan terhubung dengan berbagai institusi di luar negeri. Saya berharap mahasiswa Ubaya memiliki kemampuan untuk belajar berkomunikasi lintas budaya agar lulusan Ubaya siap berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain di level Internasional sehingga memiliki nilai tambah di dunia kerja," pungkas Oeke, Jumat (9/8/2019). (tok/dwi)
top