suarasurabaya.net

Ada Gejala Gempa Sesar Kendeng, BMKG Tambah 13 Seismograf di Jatim
Laporan Denza Perdana | Senin, 02 September 2019 | 15:16 WIB

Bambang Hargiyono Kepala BMKG Kelas 1 Juanda menjelaskan tentang alat seismograf yang akan dipasang kepada Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur di Kantor BMKG Juanda, Senin (2/9/2019). Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Badan Metrologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menambah 13 sensor seismograf atau sensor kegempaan di sejumlah daerah di Jawa Timur yang dilewati Sesar Kendeng.

Dari 15 titik yang sudah terpasang seismograf, tahun ini BMKG menambah jumlah daerah dengan seismograf menjadi 28 titik.

"Penambahan sensor gempa ini karena menurut penelitian ada gejala gempa bumi di Jatim," ujar Bambang Hargiyono Kepala BMKG Kelas 1 Juanda, Senin (2/9/2019).

Dia menyampaikan ini usai memaparkan rencana ini kepada Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur yang tandang ke Kantor BMKG Juanda.

Penambahan seismograf di Jatim berkaitan hasil penelitian Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Akademisi menemukan bukti pergerakan Sesar Kendeng.

Akibat pergerakan sesar ini ITS menemukan terjadinya pergeseran lapisan tanah mencapai dua meter. Penambahan seismograf untuk mengantisipasi ini.

"Ini untuk upaya antisipasi, supaya kami bisa menganalisis pergerakan ini dengan lebih baik, dan datanya lebih akurat," ujar Bambang.

Suwarto Kasie Observasi dan Informasi Stasiun BMKG Tretes, Kabupaten Pasuruan menjabarkan 13 titik sensor seismograf itu tersebar di sepanjang jalur Sesar Kendeng.

Dua titik seismograf akan dipasang di Kabupaten Bojonegoro. Sisanya di Sidoarjo, Tuban, Pasuruan, Lumajang, Jember, Kediri, dan Bangkalan.

"Jadi ketika nanti ada aktivitas kegempaan alat (seismograf) akan menjadi sensitif, sehingga lebih tepat lagi dalam menganalisis," kata Suwarto.

Sesar Kendeng, ujar Suwarto, membentang mulai Rembang, Jawa Tengah sampai Surabaya di Jawa Timur. Selain Kendeng, ITS juga sempat meneliti Sesar Waru dan Sesar Surabaya yang ada di Jatim.

Suwarto memastikan, meski Surabaya tidak memiliki pusat penelitian aktivitas kegempaan, fasilitas itu ada di Jombang dan Madiun.

"Dari pantauan sementara, belum terdeteksi adanya aktivitas kegempaan," katanya.

Khofifah mengatakan, kesiapsiagaan terhadap bencana seperti gempa perlu ditindaklanjuti.

Analisis dan antisipasi seperti ini, menurutnya, bukan untuk memberikan rasa khawatir kepada masyarakat. Tetapi supaya masyarakat bisa siap siaga.

"Universitas Gajah Mada (UGM) juga meneliti, memang ada dorongan tanah dari bawah yang teridentifikasi. Ini untuk warning kita bersama supaya bisa siap siaga," kata Khofifah.(den/iss/ipg)
top