suarasurabaya.net

Simposium Upaya Penyelarasan Pendidikan Digelar UK Petra Surabaya
Laporan J. Totok Sumarno | Selasa, 03 September 2019 | 14:21 WIB

Simposium berskala nasional membahas upaya penyelarasan pendidikan berkelanjutan di Indonesia. Foto: Humas UK Petra Surabaya
suarasurabaya.net| Universitas Kristen (UK) Petra menyambut hari jadi ke 60 tahun pada 2021, sekaligus rayakan HUT ke 74 Kemerdekaan RI, dan upaya cerdaskan kehidupan bangsa, FKIP UK Petra Surabaya gelar Simposium Nasional Peduli Pendidikan Anak Bangsa.

Dalam simposium berskala nasional ini mencuat bahwa beberapa titik yang perlu diperbaiki dalam pendidikan di Indonesia. Terutama adalah sistem pendidikan yang menjadikan anak seperti robot.

Allan Schneitz, pakar pendidikan dari Finlandia sebagais atu diantara nara sumber berbagi metode yang dipakai di Finlandia untuk membentuk anak-anak dengan kepribadian dan soft skill yang baik, yaitu melalui pembacaan cerita pada anak.

"Di Finlandia, orang tua membacakan buku untuk anak-anaknya sejak usia dini. Hal ini perlu menjadi kebiasaan di Indonesia. Jika orang tua tidak bisa, sekolah perlu melakukan hal ini. Karena akan sangat mempengaruhi perkembangan akademik anak," terang Allan Schneitz.

Dr. Yohanes Moeljadi Pranata, nara sumber lainnya menyoroti adanya sentralisasi, yang merupakan warisan dari pemerintahan era sebelumnya di Indonesia, dalam pendidikan sebagai salah satu penyebab lestarinya budaya pendidikan berdasar konten.

Siswa belajar untuk mengikuti konten yang dibuat secara nasional dengan ukuran yg tersentralisasi. Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, menyampaikan hal yang senada, yaitu diperlukan adanya otonomi dalam menyelenggarakan pendidikan.

"Otonomi penting karena negara kita beragam dan pembakuan standar sekolah sukar menggambarkan keberagaman itu," ujar Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro.

Dr Magdalena Pranata, Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) UK Petra, selaku moderator menggarisbawahi rekomendasi yang akan dihadirkan dari simposium akan mengarah pada perwujudan masyarakat Indonesia yang bermartabat, yang hidup dengan kualitas spiritual, intelektual, dan moral sesuai Pancasila.

Tentang pendidikan yang dapat menghasilkan perkembangan revolusioner kepentingan anak didik, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. Djwantoro, Rektor UK Petra Surabaya menyampaikan gagasan dipakainya membentuk Outcome Based Education (OBE) yang diwakili oleh sepuluh ketrampilan: complex problem solving, critical thinking, creativity, people management, coordinating with others, emotional intelligence, judgment and decision making, service orientation, negotiation dan cognitive flexibility.

Satryo Soemantri Brodjonegoro sepaham dalam implementasi OBE. "Pendidikan diupayakan outcome based education. Outcome is the most important, dan how to achieve depends on the locals," kata Satryo mantab, Selasa (3/9/2019).

Pada simposium sehari tersebut dihasilkan upaya penyelarasan pandangan atas permasalahan dan solusi dalam pendidikan. Hasil dari diskusi ini selanjutnya akan disampaikan kepada Pemerintah sebagai rekomendasi arah baru kebijakan pendidikan nasional.(tok/ipg)
top