suarasurabaya.net

Bukan Papan Gim Biasa, Begini Cara Main Survival Land dan The Pamona
Laporan J. Totok Sumarno | Rabu, 11 September 2019 | 18:37 WIB

Mencoba board games karya para mahasiswa Universitas Surabaya. Foto: Humas Ubaya
suarasurabaya.net| Dua mahasiswa program studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya) bikin papan gim (board games) yang memberikan pengalaman bermain berbeda bagi milenial. Namanya Survival Land dan The Pamona.

Survival Land karya Robert Surya Nata adalah papan permainan mengasah otak dan melatih kerja sama tim dalam bertahan hidup di alam terbuka dengan membuat rute perjalanan yang tepat untuk mencapai garis finish bersama.

Sedangkan The Pamona karya Victor Riyois Sorongku adalah papan gim yang dilengkapi penjelasan edukatif tentang potensi wisata kabupaten Poso, Sulawesi Tengah yang jarang diketahui masyarakat Indonesia.

Robert dan Victor memainkan karyanya itu, Rabu (11/9/2019), dalam Informatics Creative Festival 2019 di Atrium Hall East Coast Center Lt. 1, Pakuwon City, Surabaya.

Robert Surya Nata mengatakan, papan gim Survival Land buatannya adalah cara baru melatih kekompakan dan kerja sama tim di kalangan generasi milenial.

Permainan ini dirancang untuk meminimalisir sisi negatif dari penggunaan gawai yang membuat generasi milenial jadi pribadi induvidualistis, egois, dan cenderung mengurangi pertemuan tatap muka dalam berkomunikasi.

Secara tidak langsung, dengan bermain papan gim ini, pemain akan diajak bersosialisasi dan lebih peduli kepada sesama. Berbeda dengan papan gim pada umumnya, kemenangan bukan milik individu tapi kemenangan kelompok.

Setiap pemain dalam permainan itu layaknya sekelompok anak dari abad 22 yang terlempar ke dunia masa lalu, yang mana telah terjadi banyak bencana di dalamnya.

Selain berusaha menemukan rute jalan, pemain akan berhadapan dengan bencana alam yang membuat dirinya atau pemain lain terluka sehingga perjalanannya terganggu.

Setiap pemain memiliki kemampuan masing-masing yang berguna untuk saling membantu dalam permainan itu. Pemain bisa berperan sebagai Path Fixer atau pembuka jalan bekas longsor dan pohon tumbang, menyembuhkan diri sendiri atau pemain lain atau sebagai Medic, atau sebagai Path Finder yang punya kemampuan melihat rute jalan dengan jarak dua kartu di depannya.

Survival Land bisa dimainkan dengan durasi selama 30 sampai 60 menit oleh tiga sampai enam orang berusia di atas 18 tahun.

"Permainan ini membutuhkan strategi, komunikasi, dan kerja sama tim dengan baik. Kalau meninggalkan salah satu pemain dalam permainan, maka permainan akan berakhir dan kalah. Jika mau menang tidak boleh meninggalkan pemain lain dan harus saling bantu kalau kena bencana alam selama permainan berlangsung. Setiap pemain harus menurunkan ego masing-masing untuk mencapai garis finis dan meraih kemenangan bersama," kata Robert.

Lain halnya dengan The Pamona, papan gim buatan Victor Riyois Sorongku. Victor menjelaskan, papan gim itu memang sengaja dibikin untuk memperkenalkan potensi wisata di wilayah Indonesia Timur, yaitu Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Pamona adalah nama suku asli yang tersebar di Kabupaten Poso. Melalui papan gim ini, setiap pemain diajak menjelajah lokasi wisata, mengetahui hasil bumi, melihat bentuk ukiran, dan hidup beradaptasi seperti suku Pamona.

Pemain juga dapat penjelasan dan gambar terkait lokasi wisata dan artefak pada kartu permainan agar pemain mendapat gambaran, sejarah, dan informasi yang jelas.

Permainan ini juga menggunakan perhitungan dan melatih otak untuk menukar material hasil bumi dari setiap lokasi sesuai syarat berpindah tempat atau melakukan aktivitas lain seperti memancing, berkebun, hingga menukarkan kunci peti untuk membuka peti artefak.

Permainan selesai dan memunculkan pemenang kalau ada salah satu pemain yang berhasil mengumpulkan tiga artefak bersejarah suku Pamona, yaitu Pasatimpo, Pamona Kings Tomb, dan Baoela Statue. Artefak ini tersebar di wisata terpencil seperti Air Terjun Saluopa, Watumoraa, dan Lembah Bada.

Papan gim The Pamona bisa dimainkan dengan durasi permainan selama 45 sampai 80 menit oleh tiga hingga enam orang untuk usia 14 tahun ke atas.

"Bermain sekaligus memperkenalkan wisata alam Kabupaten Poso dan budaya suku Pamona, itu konsep board games ini. Terdapat 29 lokasi wisata yang ada pada papan permainan. Pemain juga dapat berkebun dan mendapatkan hasil bumi suku Pamona berupa cokelat dan cengkeh. Selain itu, pemain juga bisa memancing dan menyusuri danau Poso dengan perahu Katinting. Saya berharap dengan penjelasan permainan yang menggunakan bahasa Inggris tidak hanya menarik masyarakat Indonesia untuk bermain tetapi dapat menjadi media hiburan dan promosi wisata bagi wisatawan asing," papar Victor.

Survival Land dan The Pamona adalah papan gim yang dipamerkan pada Informatics Creative Festival 2019 dengan tema: Life In Technology, yang diselenggarakan setiap tahun oleh Program Studi Teknik Infomatika Fakultas Teknik Ubaya.

Hendra Dinata, S.T., M.Kom., dosen Pembina ICF 2019 sekaligus Dosen Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya) menjelaskan, pameran hasil karya Tugas Akhir mahasiswa ini bertujuan memperkenalkan dan memberikan wawasan kepada masyarakat terkait bidang keilmuan program studi Teknik Informatika di Ubaya.

Selain itu, pameran ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperkenalkan hasil karya mereka kepada masyarakat.

"Kami berharap masyarakat khususnya pengunjung pameran menjadi tahu bahwa Ubaya memiliki program studi yang berfokus pada pengajaran di bidang Teknik Informatika. Banyak karya Tugas Akhir mahasiswa yang dipamerkan berupa video animasi, games, aplikasi, website dan board games. Semoga karya mahasiswa tidak hanya sekedar menarik namun juga bisa digunakan dan bermanfaat bagi masyarakat," pungkas Hendra, Rabu (11/9/2019).(tok/den)
top