suarasurabaya.net

Hampir 40 Ribu Warga Riau Menderita ISPA Akibat Karhutla
Laporan Agustina Suminar | Kamis, 12 September 2019 | 22:12 WIB

Jembatan Siak III terlihat samar-samar akibat asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) makin pekat di Kota Pekanbaru, Riau, Kamis (12/9/2019). Foto: Antara
suarasurabaya.net| Sebanyak 39.277 warga di Provinsi Riau menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) akibat polusi kabut asap kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla, yang mulai pekat sejak bulan Agustus hingga awal September ini.

"Asap mulai pekat pada akhir Juli dan mulai Agustus jumlah pasien ISPA meningkat," kata Mimi Nazir Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, di Pekanbaru, Kamis (12/9/2019).

Ia mengatakan jumlah penderita ISPA meningkat dibandingkan bulan Juli sebanyak 27.563 orang, menjadi 29.346 orang pada Agustus dan hingga tanggal 11 September jumlahnya sudah mencapai 9.931 orang.

Mimi menjelaskan, penderita ISPA selama bulan Agustus paling banyak di Kota Pekanbaru yakni lebih dari 7.377 orang. Kemudian di Kabupaten Kampar ada sekitar 4.152 orang, Siak 4.616 orang dan Kota Dumai ada 3.932 pasien.

Ia mengatakan seluruh Puskesmas di 12 kabupaten/kota sudah disiagakan sebagai posko untuk menangani masyarakat yang terpapar asap Karhutla. “Warga tidak dipungut biaya untuk berobat ke Puskesmas,” katanya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution menyatakan pihaknya sudah merespon dengan cepat untuk mengantisipasi dampak kabut asap Karhutla. Selain meliburkan sekolah sejak awal pekan ini, Pemprov Riau melalui Dinas Kesehatan juga sudah mendistribusikan masker kepada masyarakat dan daerah-daerah yang dilanda kabut asap.

"Sudah ada 600 ribu masker yang dibagikan," katanya dilansir Antara.

Kualitas udara di sebagian besar daerah di Provinsi Riau pada Kamis turun drastis ke kategori “berbahaya”, akibat tercemar asap sisa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sumatera, Amral Fery, di Pekanbaru, mengatakan penghitungan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) rata-rata menunjukkan angka 300 dan masuk kategori berbahaya. P3E yang merupakan badan di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menghitung nilai ISPU setiap 24 jam.

Amral Fery mengungkapkan penghitungan ISPU di dua alat di titik Tenayan Raya dan pusat kota Pekanbaru menunjukkan angka 188 dan 123, atau masuk kategori "tidak sehat". Sementara itu, di daerah lain ISPU menunjukkan angka di atas 300 atau kategori "berbahaya”.

Alat pengukur ISPU yang menunjukkan angka kategori berbahaya antara lain di daerah Rumbai, Kota Pekanbaru. Kemudian di daerah Minas Kabupaten Siak, daerah Petapahan di Kabupaten Kampar, Kota Dumai, daerah Bangko dan Libo di Kabupaten Rokan Hilir, serta di daerah Duri Kabupaten Bengkalis.

"Di Pekanbaru sendiri, daerah Tenayan Raya dan pusat kota kategori tidak sehat. Tapi di daerah Rumbai sudah berbahaya, ISPU warna hitam," katanya.(ant/tin)
top