suarasurabaya.net

Kabut Asap Sebabkan 18 Jadwal Penerbangan Tertunda di Palembang
Laporan Anggi Widya Permani | Minggu, 22 September 2019 | 20:53 WIB

Ilustrasi. Foto: Antara
suarasurabaya.net| Intensitas kabut asap yang terus meningkat menyebabkan 18 jadwal penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang mengalami penundaan dan satu penerbangan dialihkan pendaratannya.

Fahroji Executive General Manager Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II mengatakan, penerbangan tertunda akibat jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II hanya tersisa 200 meter.

Ini adalah jarak pandang terpendek semenjak asap mulai masuk ke Kota Palembang tiga pekan terakhir.

"Pukul 05.00 WIB jarak pandang masih 800 meter (aman), lalu pukul 06.00 WIB turun menjadi hanya 200 meter, baru normal kembali pukul 08.00 WIB yakni sudah 2.500 meter," ujar Fahroji dilansir Antara, Minggu (22/9/2019).

Menurut dia, 18 jadwal penundaan tersebut terdiri dari tujuh jadwal kedatangan dan 11 jadwal keberangkatan. Selain itu terdapat satu penerbangan terpaksa mendarat di Palembang setelah dialihkan karena tidak bisa mendarat di Jambi akibat kabut asap.

Di antara jadwal yang terpaksa tertunda yakni penerbangan maskapai Garuda rute Soekarno Hatta-Palembang. Pada rute itu, pesawat seharusnya tiba pukul 06.45 WIB, tetapi baru bisa mendarat di bandara pukul 09.32 WIB atau terlambat 167 menit.

Sementara Bambang Beny Setiaji Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi SMB II Palembang mengatakan, asap yang menyelimuti Kota Palembang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah sebelah Timur-Selatan Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen.

"Wilayah yang berkontribusi mengirim asap yakni SP Padang, Banyu Asin I, Pampangan, SP Padang, Pedamaran, Tulung Selapan, Cengal, Pematang Panggang, dan Mesuji," ujar Beny.

Kabut asap diindikasikan dengan kelembapan yang tinggi dengan partikel-partikel basah di udara, itu disebabkan kondisi langit pada malam hari tanpa awan mengakibatkan radiasi permukaan bumi lepas keluar atmosfer.

"Akibatnya suhu di permukaan relatif dingin yakni 22-23 derajat celcius, namun pasca matahari terbit keadaan udara akan relatif labil sehingga partikel basah (kabut) maupun kering (asap) akan terangkat naik dan jarak pandang menjadi lebih baik," jelas Beny. (ant/ang)
top