suarasurabaya.net

Pengamat Film: Bioskop Belum Tegas dalam Praktik Klasifikasi Usia
Laporan Agustina Suminar | Minggu, 06 Oktober 2019 | 19:20 WIB

Cuplikan adegan dalam film Joker. Foto: Warner Bros. Pictures
suarasurabaya.net| Lembaga Sensor Film (LSF) sudah menentukan klasifikasi film yang tayang di bioskop, dengan beberapa kategori usia. Namun, aturan tersebut masih belum sepenuhnya dilakukan oleh pihak bioskop.

Temuan di lapangan, masih banyak masyarakat yang kurang memperhatikan klasifikasi usia pada film yang akan ditontonnya. Tidak sedikit orang tua yang mengajak anaknya menonton film bioskop, yang sebenarnya diklasifikasikan jauh di atas usianya.

Menurut Novin Farid Pengamat Film Universitas Muhammadiyah Malang, fenomena itu terjadi lantaran kurang adanya ketegasan dari pengelola bioskop. Misalnya, dengan menunjukkan identitas saat pembelian tiket atau saat akan masuk ke dalam teater.

"Karena saya lihat, terkadang ada tayangan yang 13+ atau 17+, tapi karena orang tua ingin menonton dan mereka ke mal bersama anak, akhirnya anaknya sekalian diajak. Saya lihat memang belum ada ketegasan," kata Novin kepada Radio Suara Surabaya, Minggu (6/10/2019).

Hal ini juga untuk menyikapi film Joker, yang baru dirilis 4 Oktokber lalu dan ramai diperbincangkan masyarakat. Film dengan klasifikasi usia 17+ ini dikhawatirkan akan berdampak buruk, jika ditonton anak-anak.

Selain karena adanya adegan kekerasan berdarah, film tersebut juga menggambarkan perilaku tokoh utama yang mengganggu, bahasa, dan gambaran seksual singkat. Novin khawatir, dengan kelonggaran pihak bioskop dalam praktik klasifikasi usia akan berdampak buruk.

Terlebih jika film Joker tersebut ditonton anak-anak. Selain pengelola bioskop, kesadaran orang tua juga dibutuhkan dalam hal ini. Orang tua wajib selektif dan serius untuk memilihkan film yang layak ditonton anak-anak.

"Orang tua kadang kalau ada celah, diambil aja. Padahal impact-nya (dampak) memang tidak langsung, tapi jangka panjang," lanjutnya.

Anak-anak, kata Novin, cenderung memahami apa yang mereka tonton adalah yang terjadi di dunia nyata. Sehingga, jika tidak dengan bimbingan orang tua, maka film akan memengaruhi cara pandang mereka terhadap nilai-nilai berkehidupan dan bermasyarakat.

"Ada namanya teori Kultivasi, mereka (anak) menganggap apa yang mereka tonton itu terjadi di real life, padahal itu fiksi. Sehingga mereka anggap apa yang mereka tonton benar terjadi dan jadi pedoman hidup mereka," paparnya.

Dia berharap, baik penonton maupun pihak bioskop harus lebih tegas dalam menyaring penonton yang akan masuk bioskop. Apakah film tersebut sesuai umur mereka atau tidak.

"Sejak pembuatan skenario, produser sudah tau klasifikasinya untuk siapa. Lalu LSF memberikan review lagi apakah cocok untuk semua umur atau tidak. Sekarang tinggal bagaimana aturan itu dipatuhi oleh semua pihak," ungkapnya.(tin/ang)
top