suarasurabaya.net

Indonesian Craft in Practice Ajak Mahasiswa Asing Kenali Indonesia
Laporan J. Totok Sumarno | Rabu, 13 November 2019 | 19:13 WIB

Para mahasiswa luar negeri penerima beasiswa Dharmasiswa praktikum Bakiak. Foto: Totok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Mahasiswa luar negeri penerima beasiswa program Dharmasiswa di Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Rabu (13/11/2019) mengikuti praktikum Bakiak pada mata kuliah Indonesian Craft in Practice sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia.

Bertempat di laboratorium Bahan Desain Interior Gedung Q UK Petra Surabaya, praktikum Bakiak mengajak 6 mahasiswa luar negeri mengenali dan membuat sendiri Bakiak kemudian ikut permainan Balap Bakiak yang bisa jadi tidak ditemui para mahasiswa luar negeri tersebut.

"Di negara para mahasiswa luar Indonesia tersebut mungkin tidak ditemukan Bakiak. Kami sengaja pilih agar mereka mengenal dan memahami kehidupan dan keseharian masyarakat di Indonesia. Dan bisa mereka ceritakan di negara asalnya," terang Andreas pandu Setiawan S.Sn.,M.Sn., Dosen Indonesian Craft in Practice.

Para mahasiswa penerima beasiswa program Dharmasiswa yang digagas pemerintah Republik Indonesia selama satu tahun tersebut adalah Richardo Aparicio Lopes Bria (Timor Leste), Christian Michael Brown (Amerika), Ekaterina Nemolochnova (Rusia), Afshin Izadi (Iran), Imaculada Pereira Lim (Timor Leste) dan Muhammad Anns (Pakistan).

Pada kesempatan Rabu (13/11/2019) para mahasiswa mempelajari berbagai media senirupa yang menjadi keseharian kehidupan masyarakat Indonesia. "Mereka belajar kisah mengenal senirupa melalui karya olah material dan bentuk sebagai wujud fisik budaya rupa," tambah Pandu.

Para mahasiswa asing ini telah belajar banyak hal diantaranya praktikum membuat benda seni rupa sebagai pemenuhan mata pencaharian (anyaman keranjang makanan, tikar dan tangga bambu), membuat benda seni rupa sebagai pemenuhan rekreasi (dakon, egrang, patil lele dan lain-lain), membuat benda seni rupa sebagai pemenuhan kebutuhan spiritual (patung, relief, batik, topeng dan lain-lain), serta membuat benda seni rupa sebagai pemenuhan kebutuhan hidup bermasyarakat (fashion baju adat, senjata tradisional).

Proses belajar mereka ini memadukan proses belajar dengan praktikum secara langsung fungsi benda yang dibuat. Misalnya saja, saat membuat Bakiak, para mahasiswa diajak serta praktek mempergunakannya.

Tidak jarang untuk mengerjakannya atau praktikum, para mahasiswa asing ini diajak ke kampung-kampung atau lokasi tempat pembuatan barang kerajinan sekaligus berbaur dengan masyarakat sekitar agar terjalin komunikasi diantara mereka.

"Jadi mereka juga belajar bahasa Indonesia dasar. Misalnya seperti penggunaan sapaan, perkenalan diri dan lain-lain, dan itu dapat mereka aplikasikan saat melakukan praktikum di sentra budaya bersama masyarakat sekitar," terang Henny Putri Saking Wijaya, S.S., MA ELT., Koordinator BIPA dan dosen wali Darmasiswa.(tok/dwi)
top